Do You Know? #7 : Dua Pengetuk Rumah di Masa Dinasti Utsmaniyyah

Di masa kekuasaan Dinasti Utsmaniyyah, setiap pintu rumah disediakan dua macam pengetuk – kecil dan besar dikarenakan tujuan tertentu. Berikut adalah cerita singkatnya.

Ketika pintu diketuk oleh pengetuk kecil, maka dapat diketahui bahwa yang mengetuk adalah seorang perempuan sehingga yang menyambut tamu adalah istri pemilik rumah.

Sedangkan ketika pintu diketuk oleh pengetuk besar, maka dapat diketahui bahwa yang mengetuk adalah seorang lelaki dan suamilah yang berhak untuk membuka pintu.

Satu hal lain yang menarik dari etika bertamu ini adalah bilamana pemilik rumah sedang sakit, maka ditaruhlah di depan rumahnya karangan bunga mawar merah sebagai tanda sehingga pejalan kaki dan orang-orang yang berlalu-lalang bahwa di rumah tersebut mengetahui bahwa sedang ada yang sakit. Hal ini bertujuan agar mereka tidak membuat kegaduhan atau meninggikan suara di depan rumahnya.

—–

Edited by: @pokamamil

Source: http://www.islampos.com/dua-pengetuk-rumah-di-masa-dinasti-ustmani-94172/

Kepandaian dan Kegigihan Khalifah Umar bin Khattab Dalam Menangani Krisis Pangan

Tokoh besar biasanya menghadapi kasus-kasus besar yang menunjukkan kebesaran dan ketokohan mereka. Khalifah Umar bin Khattab dikenal luas sebagai pemimpin yang cakap mengatur urusan agama, ekonomi, politik, hukum dan militer.

Salah satu kasus besar yang mampu beliau hadapi dan pecahkan dengan baik adalah musibah paceklik selama sembilan bulan yang menimpa Jazirah Arab pada tahun 18 H. Saat itu terjadi kekeringan panjang dan kelaparan hebat yang menewaskan ribuan manusia dan ternak. Sumber-sumber air dan rumput mengering sehingga hewan ternak mati bergelimpangan. Lahan-lahan pertanian tandus, mengering dan tidak bisa digarap karena tidak ada tanaman yang bertahan hidup dalam cuaca yang begitu panas.

Puluhan ribu kaum muslimin yang hidup di desa-desa dari lahan pertanian dan hidup di daerah pedalaman padang pasir dari peternakan tak mungkin bertahan hidup di daerahnya sehingga mereka berbondong-bondong datang ke kota Madinah. Puluhan ribu pengungsi muslim tersebut memerlukan makanan tiga kali sehari untuk krisis yang terjadi selama sembilan bulan penuh. Tahun tersebut sampai disebut ‘amur ramadah, tahun kematian alias tahun kebinasaan.

Khalifah Umar bin Khattab menunjukkan kerja keras, keuletan dan kesabaran luar biasa dalam menangani krisis pangan tersebut.

Zaid bin Aslam menuturkan, “Ketika terjadi tahun kematian, bangsa Arab dari segala penjuru berbondong-bondong datang ke kota Madinah. Khalifah Umar bin Khathab mengangkat empat orang pejabat khusus yang bertanggung jawab mengurusi kebutuhan mereka, mendistribusikan makanan dan lauk-pauk kepada mereka. Para pejabat khusus tersebut adalah Yazid putra saudara perempuan Namr, Miswar bin Makhramah, Abdurrahman bin Abdul Qari, dan Abdullah bin Utbah bin Mas’ud. Masing-masing pejabat khusus tersebut ditempatkan di masing-masing sudut kota Madinah.

Di waktu malam, keempat pejabat khusus itu berkumpul dengan Umar bin Khattab. Mereka melaporkan kepadanya pekerjaan yang telah dilakukannya dan kondisi yang dihadapinya. Masing-masing mereka menangani ribuan pengungsi di masing-masing sudut kota Madinah. Puluhan ribu kaum Arab Badui berdatangan dan ditempatkan di daerah Ra’su Tsaniyah, Ratij, Bani Haritsah, Bani Abdul Asyhal, Baqi’ dan Bani Quraizhah. Ribuan pengungsi lainnya berada di sudut Madinah di perkampungan Bani Salimah. Puluhan ribu pengungsi itu memenuhi semua sudut kota Madinah.

Suatu malam setelah semua pengungsi mendapatkan jatah makan malam, aku mendengar Umar bin Khathab berkata kepada para pejabat khusus itu: “Hitunglah orang-orang yang mendapatkan jatah makanan malam dari kita!”

Para pejabat khusus bersama para pembantu umum menghitung jumlah mereka. Ternyata mereka berjumlah 7000 orang. Umar bin Khatab berkata: “Hitunglah keluarga-keluarga kaum muslimin yang belum datang, orang-orang yang sakit dan anak-anak!” Setelah dihitung kembali ternyata mereka berjumlah 40.000 orang!

Keadaan itu berlangsung selama beberapa malam. Ternyata setiap hari jumlah pengungsi semakin banyak. Umar bin Khatab memerintahkan keempat pejabat khusus itu untuk menghitungg jumlah mereka. Ternyata para pengungsi yang datang ke jamuan makanan malam berjumlah 10.000 orang. Adapun keluarga yang belum bisa datang, orang-orang sakit dan anak-anak yang belum datang ke jamuan makan malam berjumlah 50.000 orang.

Keadaan itu terus berlangsung sampai akhirnya Allah menurunkan air hujan. Ketika air hujan telah turun, aku melihat Umar bin Khathab telah membekali setiap keluarga pengungsi yang akan kembali ke desa-desa dan daerah-daerah pedalaman tersebut dengan makanan pokok dan kendaraan sampai ke tempat tinggal mereka semula. Aku melihat sendiri Umar bin Khathab terjun langsung dalam menyiapkan perbekalan dan mengantarkan mereka pulang dari kota Madinah.

Krisis paceklik panjang itu telah menimbulkan kematian yang luas. Aku perkirakan dua pertiga masyarakat meninggal karenanya, yang bertahan hidup hanya sepertiganya. Para pekerja yang ditugaskan oleh Umar telah menyalakan tungku-tungku api sejak malam dan memasak bubur di atas periuk-periuk sejak waktu sahur. Pada waktu pagi, orang-orang yang sakit mendapat jatah makanan pertama kali. Setelah itu para pekerja memasak roti untuk para pengungsi yangsehat.

Umar bin Khathab memerintahkan agar periuk-periuk besar di pasang di atas tungku-tungku, kemudian minyak ditumpahkan ke dalamnya sampai panas dan didihannya hilang, setelah itu dibuat bubur dari roti yang dihaluskan. Bubur roti itu dicampur dengan kuah minyak tersebut. Pengungsi Arab dihangatkan dengan kuah minyak tersebut. Selama terjadinya tahun kematian itu, Umar bin Khathab tidak pernah merasakan makanan apapun di rumah salah satu anaknya, tidak pula di rumah salah seorang istrinya, selain makanan yang juga dirasakan oleh kaum muslimin. Keadaan itu berlangsung sampai Allah mempertahankan kehidupan masyarakat.”

Subhanallah, khalifah Umar bin Khatab siang dan malam bekerja keras demi melayani rakyatnya, penduduk Madinah dan puluhan ribu pengungsi, agar mereka selamat dari bencana kelaparan. Beliau hanya mengonsumsi apa yang juga dikonsumsi oleh rakyatnya. Jika rakyat kelaparan, beliau adalah orang yang pertama kali merasakan lapar. Dan jika rakyat merasakan kenyang, beliau adalah orang yang terakhir kali merasakan kenyang.

Abdullah bin Malik Ad-Dar menuturkan bahwa Amru bin Ash mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh dua puluh kapal dan seribu unta. Sementara itu Mu’awiyah bin Abi Sufyan mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh tiga ribu unta. Adapun Sa’ad bin Abi Waqash mengirimkan bantuan makanan yang diangkut oleh dua ribu unta.

Firas Ad-Dailami berkata, “Setiap hari Umar bin Khathab menyembelih dua puluh ekor unta untuk jamuan makan para pengungsi, dari unta-unta yang dikirimkan oleh Amru bin Ash dari Mesir.”

Abdullah bin Umar menuturkan, “Ketika terjadi tahun kematian, khalifah Umar bin Khathab menulis surat kepada Amru bin Ash (gubernur Mesir): “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dari Umar bin Khathab amirul mukminin kepada ‘Ashi bin ‘Ashi (orang yang bermaksiat putra orang yang bermaksiat). Semoga keselamatan senantiasa dilimpahkan kepadamu. Amma ba’du. Apakah engkau rela melihatku dan orang-orang di wilayahku mati sementara engkau dan orang-orang di wilayahmu hidup? Kirimlah bantuan! Kirimlah bantuan! Kirimlah bantuan!”

Amru bin Ash menjawab surat itu dengan menulis: “”Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kepada hamba Allah yang tiada Tuhan Yang berhak disembah selain Dia. Amma ba’du. Bantuan telah datang kepada Anda, maka bertahanlah! Bertahanlah! Aku akan mengirimkan kepada Anda kafilah unta, di mana unta yang pertama akan sampai di depan Anda sementara unta yang terakhir masih berangkat dari hadapanku.”

Ketika makanan pertama yang dikirim oleh Amru bin Ash sampai di kota Madinah, khalifah Umar bin Khathab segera memanggil Zubair bin Awwam. Umar memberikan perintah cepat kepadanya, “Songsonglah kafilah unta yang berikutnya, arahkan ke penduduk Arab pedalaman dan distribusikanlah makanan itu di antara mereka! Demi Allah, setelah keutamaan menjadi sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam, barangkali engkau tidak akan mendapatkan amalan yang lebih utama daripada tugas ini.”

Zubair Ibnul Awwam menolak tugas itu karena ia sendiri sedang sakit. Tiba-tiba datang seorang sahabat yang lain. Umar mengutarakan tugas tersebut kepadanya dan sahabat itu menerimanya. Kepadanya, Umar berpesan, “Bawalah makanan kepada penduduk Arab pedalaman. Kain-kain dan selimut yang ada dalam kafilah unta itu jadikanlah sebagai pakaian buat mereka. Adapun unta yang mengangkutnya, sembelihlah dan berikanlah dagingnya sebagai makanan bagi mereka. Adapun tepung gandum, buatlah makanan untuk mereka dan perintahkan mereka untuk menyimpan sebagiannya sampai Allah memberikan jalan keluar bagi mereka.”

Umar bin Khathab sendiri ikut memasakkan makanan untuk ribuan pengungsi. Setiap selesai memasak, seorang pegawai akan berkeliling dan mengumumkan, “Barangsiapa ingin mendatangi jamuan makan dan makan di tempat jamuan, silahkan datang! Barangsiapa ingin datang untuk mengambil makanan bagi dirinya dan keluarganya, silahkan mengambil!”

Hisyam bin Urwah berkata, “Aku melihat sendiri para pegawai Umar berkeliling di seluruh wilayah antara Makkah dan Madinah untuk membagi-bagikan makanan kepada penduduk.”

Musa bin Thalhah menuturkan, “Umar bin Khathab mengirimkan permintaan bantuan pangan kepada gubernur Mesir, Amru bin Ash, gubernur Syam Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan gubernur Kufah, Sa’ad bin Abi Waqash. Sesuai perintah Umar, Amru bin Ash mengirimkan makanan melalui jalan laut dan kafilah unta di darat. Para pegawai Umar menyambut kedatangan kafilah unta dari Mesir di perbatasan Mesir-Syam. Mereka lalu berkeliling ke desa-desa dan daerah-daerah pedalaman guna membagikan makanan kepada penduduk. Mereka menyembelih unta-unta, memasakkan tepung gandum, dan membagikan pakaian kepada penduduk. Sementara makanan yang dikirim oleh Amru bin Ash lewat jalur laut disambut oleh pegawai Umar dan dibawa ke wilayah Tihamah untuk memberi makanan dan pakaian bagi penduduk Tihamah.

Di perbatasan Syam, para pegawai Umar juga menyambut kedatangan kafilah unta yang dikirim oleh gubernur Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Mereka lantas menyembelih unta-unta, membagikan dagingnya kepada penduduk, memasakkan roti dari tepung gandum dan membagi-bagikan pakaian kepada mereka.

Di perbatasan Irak, hal serupa dilakukan oleh para pegawai Umar terhadap kafilah unta yang membawa makanan dan pakaian kiriman gubernur Sa’ad bin Abi Waqash. Daging unta, roti tepung gandum dan pakaian didistribusikan kepada masyarakat sampai Allah mengangkat bencana paceklik panjang itu dari kaum muslimin.

Aslam mantan budak Umar bin Khathab bercerita, “Umar biasanya selalu berpuasa sunah. Pada masa tahun kematian, di waktu sore Umar mendapat jatah roti tepung yang telah dilunakkan dengan minyak. Pada suatu hari para pegawai Umar menyembelih unta-unta dan membagi-bagikannya kepada masyarakat. Para pegawai itu menyisihkan bagian yang enak, yaitu daging bagian punuk unta dan bagian lambung. Ketika makanan buka puasa itu disuguhkan kepada Umar, ia segera bertanya, “Dari mana makanan enak ini?” Mereka menjawab, “Wahai amirul mukminin, dari unta yang kita sembelih hari ini.” Umar menukas,

بَخْ بَخْ بِئْسَ الْوَالِي أَنَا إِنْ أَكَلْتُ طَيِّبَهَا وَأَطْعَمْتُ النَّاسَ كَرَادِيسَهَا. ارْفَعْ هَذِهِ الْجَفْنَةَ. هَاتِ لَنَا غَيْرَ هَذَا الطَّعَامِ.

Cih, cih, sungguh seburuk-buruk pemimpin adalah aku, jika aku memakan daging yang baik sementara aku memberikan makanan yang tidak baik kepada masyarakat. Pindahkan nampan makanan ini dan bawakan kepadaku makanan lain!”

Maka dibawakan kepadanya roti tepung gandum berkuahkan minyak. Ia memecah roti itu dengan tangannya dan mencolekkannya ke dalam kuah minyak. Tiba-tiba ia berteriak, “Aduh, kesini wahai Yarfa’! Bawalah nampan ini kepada sebuah keluarga di sudut desa Tsamgh, karena aku belum mendatangi mereka sejak tiga hari ini. Aku khawatir mereka kelaparan. Letakkan makanan ini di hadapan mereka!”

Khalifah Umar bin Khathab rela menanggung lapar sampai badannya kurus kering dan menguning. Selama sembilan bulan penuh, siang dan malam, ia bekerja, membagi perintah, mengawasi pekerjaan para pegawai, dan member contoh langsung dengan ikut memasak dan membagi-bagikan masakan kepada ribuan penduduk.

Selama sembilan bulan penuh, beliau senantiasa menghabiskan waktu malam dalam shalat malam dan berdoa dengan air mata meleleh:

اللَّهُمَّ لا تَجْعَلْ هَلاكَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ عَلَى يَدَيَّ.

“Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan kebinasaan umat ini melalui tanganku.”

Saib bin Yazid bercerita, “Suatu kali pada tahun kematian, Umar bin Khathab mengendarai seekor unta. Tiba-tiba unta itu berak dan mengeluarkan kotoran berupa tepung gandum. Melihat hal itu, Umar berkomentar:

الْمُسْلِمُونَ يَمُوتُونَ هُزْلا وَهَذِهِ الدَّابَّةُ تَأْكُلُ الشَّعِيرَ؟ لا وَاللَّهِ لا أَرْكَبُهَا حَتَّى يَحْيَا النَّاسُ.

“Kaum muslimin mati kelaparan, sementara unta ini bisa makan tepung gandum? Demi Allah, aku tidak akan mengendarainya lagi sampai kaum muslimin bisa bertahan hidup.”

Thawus bin Kaisan bercerita, “Umar bin Khathab belum sekalipun makan sampai kenyang dan menikmati minyak samin sampai ia berhasil mempertahankan kehidupan penduduk.”

Anas bin Malik bercerita, “Suatu hari perut Umar bin Khathab mengeluarkan suara karena lapar. Selama tahun kematian, ia hanya makan minyak saja. Ia tidak mau mengonsumsi daging empuk. Ia mencolek perutnya dengan jarinya dan berkata: ‘Silahkan mengeluarkan suara semaumu, tapi engkau tidak akan mendapatkan makanan selain makanan yang juga dikonsumsi oleh penduduk!”

Aslam mantan budak Ibnu Umar berkata, “Seandainya Allah tidak mengangkat bencana paceklik pada tahun kematian, kami sudah mengira Umar akan meninggal karena sedih memikirkan nasib kaum muslimin.”

Shafiyah binti Abi Ubaid berkata, “Sebagian istri Umar menceritakan kepadaku bahwa Umar sama sekali tidak menggauli seorang pun dari istrinya semasa terjadi tahun kematian.”

Saudaraku seislam dan seiman….

Subhanallah, seandainya para pemimpin dan pejabat pada zaman sekarang meneladani sikap khalifah Umar bin Khathab, tentulah nasib puluhan juta rakyat yang miskin akan berubah. Wallahu a’lam bish-shawab.

—–

Bibliography:

  • Muhammad bin Sa’ad Al-Hasyimi Al-Bashri, At-Thabaqat Al-Kubra, 3/235-241, Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyyah, cet. 1, 1410 H.
  • Muhammad Yusuf Al-Kandahlawi, Hayatush Shahabah, 2/462-464, Beirut: Muassasah Ar-Risalah, cet. 1, 1420 H.

Source: http://www.arrahmah.com/read/2012/08/03/22144-mutiara-hikmah-dari-panggung-sejarah-islam-15-khalifah-umar-menangani-krisis-pangan.html

Keutamaan Seorang Umar bin Khattab – PART 1/2

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
”Wahai Ibnul Khattab, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan Nya, sekali-sekali syetan tidak akan melalui suatu jalan yang akan engkau lewati.”

Ringkasan keutamaan Umar bin Khattab RA

Nama lengkap beliau adalah ’Umar bin Khattab bin Nufail bin ’Abdul ’Uzza bin Rabah bin Qurth bin Razah bin Ady bin Ka’ab bin Luay.

’Umar ra. lahir 13 tahun setelah Tahun Gajah, sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi. Beliau ra. termasuk orang paling mulia di kalangan Suku Quraisy. Beliau ra. masuk Islam pada tahun keenam kenabian saat berumur 27 tahun, sebagaimana ditulis oleh Adz-Dzahabi. Saat itu telah masuk Islam 40 orang laki2 dan 11 wanita, atau dalam riwayat lain 39 laki-laki dan 23 wanita. Masuknya beliau ke dalam Islam semakin memperkokoh kedudukan Islam sendiri. Beliau juga termasuk salah seorang dari 10 sahabat ra. yang dijamin masuk surga dan telah diriwayatkan darinya 539 hadits. Menurut Imam Suyuthi. ’Umar ra. adalah khalifah pertama yang mendapat gelar ’amirul mukminin.”

Berkata Ibnu ’Umar: ”Dia adalah seorang laki-laki dengan kulit putih bersih dengan kemerah-merahan. Postur tubuhnya tinggi, kepalanya botak dan beruban.” Berkata Ubaid bin Umar: ’Umar berpostur tinggi jauh melampaui umumnya manusia.” Berkata Abi Raja’ Al-Athari: ”…kedua tulang pipinya menonjol, bagian depan jenggotnya besar dan di ujungnya ada warna hitam kemerah-merahan.”

Dari Ibnu Sa’ad dari Dzakwan, dia berkata: Saya bertanya kepada ’Aisyah: ”Siapa yang menggelari ’Umar bin Khattab dengan Al-Faruq?” Dia berkata: ”Rasulullah.”

Beliau ra. adalah ayah dari isteri Rasulullah saw., Hafshah ra., sehingga ’Umar ra. adalah juga merupakan mertua Rasulullah saw.

Masuk Islamnya ‘Umar RA

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ’Umar bahwa Rasulullah saw. Berdoa:
”Ya Alllah, muliakanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang Engkau cintai dengan Abu Jahal bin Hisyam atau ’Umar bin Khattab.”

Dalam riwayat yang panjang dari Ibnu Sa’ad dari Abu Ya’la, Al-Hakim serta Al-Baihaqi dari Anas ra. bahwa (ma’nawi) ’Umar keluar menyandang pedang dengan tujuan membunuh Rasulullah saw. Di tengah jalan ia bertemu dengan seseorang yang memberitahukan bahwa adiknya, Fathiman binti Khattab ra. dan suaminya, Said bin Zaid ra. (salah seorang dari 10 sahabat ra. yang dijamin masuk surga), telah masuk Islam. Kemudian ’Umar ra. berbelok ke rumah adiknya, saat adik dan suaminya sedang membaca surat Thaha. Saat itu ’Umar berkata: ”Apakah kalian telah berganti agama?” Iparnya menjawab: ”Wahai ’Umar, jika kebenaran ternyata di luar agamamu!”

(Ma’nawi) Mendengar jawaban ini ’Umar melompat dan mencekik iparnya dan adiknya yang ingin membantu suaminya dipukulnya hingga berdarah. Dengan nada marah adiknya mengatakan: ”Jika kebenaran tidak berada bersama agamamu maka Asyhadu allaa ilaaha illaLlah wa asyhadu anna Muhammadan ’abduhu wa RasuluHu.”

Kemudian ’Umar meminta kitab yang dibaca adik dan iparnya tadi. Setelah berwudhu (karena adiknya memerintahkannya untuk berwudhu sebelum membacanya), maka ia membaca Surat Thaha hingga ayat 14:

”Sesungguhnya aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

’Umar berkata: ”Antarkan saya kepada Muhammad!” Dan beliau ra. pun masuk Islam.
(Untuk riwayat lengkapnya silakan merujuk ke ‘Tarikh Khulafa’, karya Imam Suyuthi atau ’Rakhiqul Makhtum’, karya Al-Mubarakfury, dll)

Ibnu Sa’ad dan Thabrani meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud ra. dia berkata: ”Islamnya ’Umar adalah sebuah kemenangan besar, sedangkan hijrahnya adalah keuntungan. Kepemimpinannya adalah rahmat. Saya telah melihat sendiri bagaimana kami tidak mampu melakukan shalat di BaituLlah sebelum ’Umar menyatakan ke-Islam-annya. Tatkala ’Umar masuk Islam, dia menyatakan perang kepada mereka sehingga mereka membiarkan kami melakukan shalat dengan bebas.”

Hijrahnya ‘Umar ra.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari ’Ali ra., dia berkata: ”Saya tidak mengenal seorang pun yang melakukan hijrah kecuali dia akan melakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi kecuali ’Umar bin Khattab. Saat ’Umar melakukan hijrah dia menyandangkan busur panahnya, dia mengeluarkan beberapa anak panah yang dia pegang di tangannya. Dia mendatangi Ka’bah, saat orang-orang Quraisy sedang berada di halamannya. Dia melakukan thawaf selama tujuh kali. Dia melakukan shalat dua raka’at di Maqam Ibrahim. Kemudian dia mendatangi kelompok-kelompok orang Quraisy satu demi satu sambil berkata, ”Wahai wajah yang tidak bersinar, barangsiapa yang mau ibunya kehilangan anaknya, dan anaknya menjadi yatim, atau isterinya menjadi janda, temuilah di belakang lembah itu.” Namun tidak ada seorang pun yang mengikutinya.

Beberapa keutamaan ‘Umar ra.

Seluruh Sahabat ra., Salafush Shalih dan seluruh Ahlus Sunnah sepakat bahwa ’Umar adalah orang (kedua) terbaik dalam umat ini setelah Rasulullah saw. Abu Bakar ra.

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra., dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
”Wahai Ibnul Khattab, demi Dzat Yang jiwaku ada di Tangan Nya, sekali-sekali syetan tidak akan melalui suatu jalan yang akan engkau lewati.”

Abu Hurairah ra. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
”Di antara umat-umat sebelum kamu ada orang-orang yang muhaddats (mendapat ilham), jika orang tersebut ada pada umatku, pasti dia adalah ’Umar.” (HR. Bukhari)

Dari Ibnu ’Umar ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:
”Sesungguhnya Allah menjadikan kebenaran di lidah dan hati ’Umar.” (HR. Tirmidzi)

Imam Tirmidzi dan Al-Hakim –dia menyatakan bahwa riwayat ini shahih– meriwayatkan dari ’Uqbah bin Amir dia berkata, Rasulullah saw. bersabda:
”Andaikata setelah aku ada nabi pastilah dia ’Umar.”

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Dia berkata: Rasulullah saw. bersabda:
”Tidak ada satu malaikat pun di langit yang tidak menghormati ’Umar, dan tidak ada satu syetan pun yang ada di atas bumi kecuali dia akan takut kepada ’Umar.”

Imam Bukhari dan Muslim juga meriwayatkan dari Said Al-Khudri ra., dia berkata, Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda:
”Di saat aku sedang tidur, kuihat orang-orang ditampakkan kepadaku. Mereka memakai baju, ada yang sebatas dada dan ada yang di bawah itu . Ditampakkan kepadaku ’Umar, dia memakai baju yang panjang dan menyeretnya.” Para Sahabat bertanya: ”Apa takwilnya, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab:”Agama.”

Diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
”Tatkala saya tidur, saya bermimpi minum susu hingga saya melihat dalam mimpiku air mengalir dari kuku-kukuku, lalu saya minumkan air itu kepada ’Umar.” Para sahabat ra. bertanya: ”Apa takwilnya, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. Menjawab: ”Ilmu.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari ’Umar ra., dia berkata: ”Pendapatku bersesuaian dengan Kehendak Allah dalam tiga hal: Pertama, saya pernah berkata kepada Rasulullah, anadaikata kita menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Lalu turunlah ayat Allah:

”…dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim[1] tempat shalat….” (QS. Al-Baqarah : 125)
[1] Ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. diwaktu membuat Ka’bah.

Kedua, saya katakan kepada Rasulullah, Yaa Rasulullah, orang yang baik dan buruk perangainya masuk ke dalam rumah isteri-isterimu, alangkah baiknya jika kau perintahkan mereka untuk berhijab. Kemudian turunlah ayat hijab. Dan ketiga, para isteri Rasulullah saw. Berkumpul karena dilandasi rasa cemburu. Maka saya katakan semoga Allah menceraikan kalian semua dan Dia menggantinya dengan isteri-isteri yang lain yang lebih baik dari kalian. Lalu turunlah firman Allah tentang hal ini.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dalam Tafsirnya dari Anas, dia berkata: ’Umar berkata: ”Saya melakukan empat hal yang sesuai dengan kehendak Allah. Tatkala turun ayat:

”Dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.” (QS. Al-Mu’minuun : 12)

Saya katakan: ”Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik,” maka turunlah ayat:

“…Maka Maha Suci Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mu’minuun : 14)

—–

TO BE CONTINUED
PART  2 - http://masjidchroniclers.wordpress.com/2014/10/25/keutamaan-seorang-umar-bin-khattab-part-2

—–

Edited by: @pokamamil

Dikutip dan diringkas oleh PIP PKS ANZ wil. NSW dari:

  • Tarikh Khulafa (Imam Suyuthi)
  • 10 Sahabat yang Dijanjikan Masuk Surga (’Abdul Hamid Kisyik)
  • Keutamaan Para Sahabat Nabi Saw. (Mustafa Al-’Adawi)
  • Zuhud (Imam Ahmad)

Source: http://nulisnulisnulis.wordpress.com/2010/12/05/keutamaan-umar-bin-khattab/

Excerpts: Mukhtashar Minhajul Qashidin – PART 1

Minhajul Qashidin

Ilmu adalah penentu dari kualitas seseorang. Mengenai ini Imam Bukhari khusus berujar, “Senantiasa ilmu harus mengawali amalan. Sebab bila berdasarkan ilmu maka amalan akan mantap dan tidak menyimpang”. Inilah esensi bagian awal dari kitab “Mukhtashar Minhajul Qashidin” karya Al-Imam Ibnu Qudamah dan untuk paruh pertama ini dijelaskan secara ringkas oleh Ustadz Farid Ahmad Okbah.

Allah SWT berfirman di Surah Muhammad ayat 19 yang berisi mengenai tauhid. Sebagai sebuah bagian penting dari agama Islam, maka seseorang harus memperkuat kadar tauhidnya terlebih dahulu dan tentu itu tidak bisa dilangsungkan tanpa dasar ilmu yang baik. Ibnul Qayyim dalam buku Miftahus Saadah membandingkan mengenai ilmu dunia dan ilmu akhirat. Menurut beliau, kebanyakan yang dikejar oleh orang adalah ilmu dunia dengan alasan agar sukses di dunia, namun banyak dari mereka yang berfokus pada pencarian ilmu yang membutuhkan investasi yang tidak sedikit ini tetap tidak terjamin untuk kehidupan akhiratnya kelak.

Justru sebaliknya untuk ilmu diin yang malah terbukti bisa mengantarkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ibnul Qayyim mencatat 300 kelebihan ilmu diin daripada ilmu dunia dalam bukunya ini dimana salah satunya adalah bahwa begitu pentingnya ilmu diin agar manusia dapat mantap dalam bersikap, dalam beramal, dan lain sebagainya.

Di dunia modern ini, kebanyakan dari kita dari kecilnya hingga dewasa lebih berfokus untuk belajar mengenai ilmu dunia serta tidak jarang juga banyak yang terjerumus ke ilmu yang salah. Maka inilah pentingnya mengapa kita harus belajar ilmu diin sejak dini yang dimulai dengan ilmu tauhid.

Ada lima macam ilmu dalam Islam seperti yang disebut Ibnul Qayyim dalam bukunya:

  1. Ilmu ruh atau ilmu tauhid
    Ini adalah ilmu paling mulia karena terkait langsung dengan Allah SWT. Kita harus mengetahui siapa Allah SWT sebenarnya dan apa keinginanNya sehingga kita bisa mengerti berbagai kehendaknya. Dari dahulu hingga sekarang manusia selalu tejerumus dalam pencarian mengenai eksistensi Tuhan dan malah mencarinya dengan ilmu filsafat yang terlampau mengagungkan logika, padahal sejatinya logikapun memiliki banyak keterbatasan. Dengan memaksakan ilmu filsafat ini maka malah menjurus ke arah terjadinya penyimpangan, apalagi ketika berusaha menafsirkan ilmu tauhid. Dengan demikian kita harus mengerti perbedaan dua ilmu ini dan baiknya tetap berada dalam jalur ilmu tauhid Islam saja.
  2. Ilmu mengenai kehidupan agama atau memahami kandungan Al Quran dan Sunnah
  3. Ilmu mengenai obatnya agama atau fatwa atas kejadian-kejadian yang terjadi di kehidupan manusia.
    Biasanya ilmu dan kewenangan mengenai ini berada di tangan para Mufti.
  4. Ilmu mengenai penyakit agama atau bid’ah serta aliran sesat.
    Dewasa ini di di Timur Tengah sudah ada program kedoktoran di berbagai universitas, khusus untuk meneliti dan menyikapi fenomena ini.
  5. Ilmu kehancuran agama atau sihir dan perdukunan.
    Hal-hal ini dipelajari dan dilawan dengan ilmu ruqyah.

Mengapa ilmu begitu penting manusia? Tiada lain adalah fakta bahwa suatu ketika harta akan habis, jabatan akan hilang, namun ilmu akan selalu ada. Maka dari itu bekal dari para nabi dan rasul adalah ilmu, bukanlah senjata ataupun harta. Nabi SAW bersabda, “Apa yang para nabi tinggalkan bukanlah harta karena semuanya akan diberikan. Namun ilmulah yang kami wariskan”. Ilmu inilah yang nantinya akan mengangkat derajat manusia. Sehingga bagi anak, kita jangan memanjakannya dengan materi semata namun kita harus memberikan ilmu pada mereka. Peradaban manusia tidak akan mungkin terbangun kecuali karena ilmu.

Maka pertanyaannya adalah darimanakah sumber ilmu tersebut? Ayat pertama yang diturunkan adalah perintah untuk membaca. Dari sini sendiri kita sudah dapat menyimpulkannya.

Selain itu, Ibnu Abbas berkata bahwa orang berilmu atau ulama nilanya 700 kali di atas mukmin biasa yang terbiasa mengamalkan ilmu untuk dirinya sendiri. Maka amalkanlah ilmu dengan berbagi sehingga apabila kebaikan tersebut dilaksanakan orang lain maka kita akan mendapat pahalanya.

Berikut adalah tiga kategori orang yang berilmu:

  1. Orang yang paham tentang Allah SWT dan berilmu tentang hukum-hukumNya.
  2. Orang yang paham tentang Allah SWT tapi tidak paham dengan hukum-hukumNya.
  3. Paham tentang hukum-hukum Allah SWT tapi tidak mengenalNya.

Sementara itu, penuntut ilmu juga terdiri dari tiga macam:

  1. Orang yang belajar tapi tidak ada perubahan dalam dirinya.
  2. Orang yang belajar tapi ia berubah menjadi lebih bertakwa, namun Sunnah masih diabaikan dan makruh masih dijalankan.
  3. Orang yang belajar dan ia menjalankan semuanya lebih baik lagi.

Maka konon ada kutipan bahwa orang yang berilmu lebih ditakuti syaithan daripada 1,000 orang yang beribadah. Terlebih bila kita mencontoh seorang Umar bin Khattab ra. yang mulia ilmu dan keberaniannya sehingga syaithan-pun takut dan tidak ingin bersinggungan dengannya.

Namun konsekuensi dari keinginan manusia untuk memperoleh ilmu mengacu pada Surah Al Ahzab ayat 72 dimana disebutkan bahwa alam semesta tidak ingin mengemban tanggung jawab dari ilmu, namun sebaliknya manusia menyanggupi untuk mewariskan risalah. Bagi alam, ini dikarenakan mereka tidak ingin pertanggungjawaban di akhirat nanti, namun manusia sombong dan merasa mampu.

Maka dari itu sebagai pertanggungjawabannya, menurut Imam Ahmad, kita harus berilmu agar menghilangkan kebodohan dalam dirinya. Selebihnya tentu agar kita dapat berbahagia di dunia dan akhirat.

Allah SWT menyebutkan golongan orang-orang yang mendapatkan petunjuk:

  1. Para nabi.
  2. Orang yang jujur. Jujur secara ucapan, perilaku, hingga isyarat tubuh.
  3. Orang yang syahid.
  4. Orang saleh.

Namun kebalikannya terdapat dua kelompok yang tersesat:

  1. Berilmu tapi tidak diamalkan, yaitu seperti kaum Yahudi.
  2. Beramal tanpa ilmu, yaitu seperti kaum Nasrani.

Sekarang begitu banyak umat Islam yang mengikuti perilaku umat-umat ini dan seperti sudah digambarkan Rasulullah SAW dalam hadis mengenai lubang biawak, sehingga kita banyak terjerumus dalam masalah.

Misalkan untuk kaum Yahudi yang mengetahui ilmu dari Allah tapi mereka memilih untuk tidak mengikutinya dan berbuat sebaliknya. Atau kebiasaan-kebiasaan orang Nasrani seperti perayaan ulang tahun, standing party (sehingga kita makan sambil berdiri), dan hal-hal lain tanpa ilmu yang jelas. Namun banyak orang Muslim yang cenderung tidak peduli dan sedikit demi sedikit mencontohi mereka.

Maka apabila kita mendapat kesulitan-kesulitan yang diakibatkan karena perilaku seperti ini maka kita harus mengeluh dulu kepada Allah dan jangan kepada manusia dahulu dan senantiasa menggali ilmu Islam agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tentu tidak lupa, kita juga wajib untuk membagi ilmu itu tersebut dengan sekeliling kita, demi Allah dan demi kebahagiaan hidup dunia serta akhirat.

—–

TO BE CONTINUED

Untuk kajian-kajian berikutnya mengenai kitab ini akan segera disimpulkan dan ditayangkan di blog ini segera setelah Ustadz Farid Ahmad Okbah melangsungkan kembali halaqa-nya di waktu mendatang.

—–

Based on halaqa by Ustadz Farid Ahmad Okbah, with some additions

Summarized by: Rian Farisa - @pokamamil

Source: “Mukhtashar Minhajul Qashidin” by Al-Imam Ibnu Qudamah Al-Maqdisi

Do You Know? #6 : Mengapa Mahkota Para Sultan Dinasti Utsmaniyyah Berukuran Besar?

Seorang raja identik dengan mahkota. Begitu pula sultan dalam sebuah pemerintahan Islam. Selain menjadi ciri khas, ternyata mahkota kesultanan Islam menyimpan satu hal lain terutama di zaman Utsmaniyyah. Mahkota yang dikenakan oleh para sultan berukuran besar. Mengapa demikian?

Berbicara mengenai simbol-simbol yang terdapat di Kekhilafahan Utsmaniyyah, setiap sultan Utsmaniyah mempunyai monogram mahkota sendiri-sendiri yang dipanggil tughra dan berfungsi sebagai lambang negara. Sementara lambang negara modern diinspirasi oleh lambang negara milik negara-negara Eropa seperti lambang Britania Raya yang diciptakan pada abad ke-19.

Bentuk terakhir lambang Turki Utsmani disetujui oleh Sultan Abdul Hamid II pada 17 April 1882 dan juga termasuk dua bendera: bendera Dinasti Utsmaniyyah yang mempunyai sebuah bulan sabit dan bintang dengan warna dasar merah dan bendera khalifah Islam yang mempunyai tiga buah bulan sabit dengan warna dasar hijau.

Sebagian elemen grafik lambang Utsmani seperti bujur di tengahnya serta bulan sabit terbaliknya serta bintang telah diadopsi pada lambang negara Republik Turki yang ada sekarang.

Bagaimana dengan ukurannya yang besar tadi?

Sebenarnya mahkota yang dipakai oleh para sultan dinasti Ustmaniyah tersebut bukan hanya mahkota biasa atau simbol dari kebangsawanan. Mahkota tersebut konon dibuat dari kain kafan sebagai pengingat akan kematian. Dan dengan kain itulah, sang sultan akan dikafani ketika wafat.

—–

Edited by: @pokamamil

Source: http://www.islampos.com/mengapa-mahkota-para-sultan-dinasti-ustmaniyah-berukuran-besar-44493/

Image from cornucopia.net