ON SALE NOW! – The Ultimate Muslima Planner 2015 (NEW)

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada kesempatan ini, The Masjid Chroniclers bersama Kecilmamil mempersembahkan kembali -

The Ultimate Muslima Planner 2015 by @kecilmamil

Setelah sukses di tahun 2014 yang lalu, planner yang didesain khusus untuk keseharian para Muslimah ini kini kembali hadir dengan penampilan serta isi yang lebih menarik.

Rancangan planner / agenda tahunan ini ditujukan untuk membantu para Muslimah mengatur berbagai urusan rumah tangga serta dilengkapi oleh Ibaadah Reminder yang sangat lengkap.

2

Berikut adalah isi lengkap dari The Ultimate Muslima Planner 2015 by @kecilmamil.

  • INTRODUCTION
    1. Owner’s bio
    2. Goal
    3. Kalendar Masehi 2014 & 2016
    4. Kalendar Masehi & Hijria 2015
    5. Muqaddimah & Table of content
    6. 7 Daily Spiritual Habits

  •  MONTHLY PLANNER
  • 61. Desain berbeda setiap bulannya
    2. Dilengkapi “Challenge Bulan Ini” untuk melatih kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin dihidupkan seperti: shalat di awal waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, dan lain-lain
    3. Kolom notes
    4. Penggalan sejarah Islam85. Setiap bulan dilengkapi dengan Monthly Financial Planner & Expense Record

  •  WEEKLY PLANNER
  • 101. Kolom Ibadaah sebagai untuk reminder ibadah Anda setiap hari
    2. Kolom Healthy with Sunnah sebagai panduan agar kesehatan kita terjaga in shaa Allah
    3. Kolom Menu untuk merencanakan menu makan harian Anda serta daftar Groceries untuk mengatur anggaran belanja Anda
    4. Kolom To Do List untuk mencatat kegiatan apa saja yang Anda ingin lakukan setiap harinya
    5. Notes: digunakan untuk catatan tambahan (atau dengan menempelkan sticky notes!)
    6. Goals Of The Week untuk target-target pribadi Anda pada minggu tersebut pada kategori:
    Aqidah: untuk peningkatan iman dan takwa Anda setiap harinya
    Health: target untuk menjaga kesehatan anda
    Books to read: untuk mencatat buku apa saja yang ingin Anda baca
    Other goals
    7. Halaqa Schedule: untuk mencatat majelis ilmu yang ingin Anda hadiri pada minggu tersebut98. Kolom Cleaning Schedule: untuk merencanakan jadwal membersihkan rumah. Gunakan artikel Cleaning Guide untuk panduan Anda dalam mengatur jadwal

  • IBADAAH PLANNER51. Apa yang harus dipersiapkan sebelum Ramadhan
    2. Jadwal membaca Al-Qur’an dalam waktu 30 hari
    3. Daily To Do dalam bulan Ramadhan
    4. Laylatul Qadr: apa yang harus dipersiapkan
    5. Daftar doa yang ingin dikabulkan Allah
    6. Catatan hutang puasa
    7. Manfaatkan waktu di bulan Ramadhan dengan memulai menghafal Juz’amma

    38. Iftar Party (Buka Bersama): rundown acara
    9. Iftar Party (Buka Bersama): planner

    4

    10. Planner Idul Fitri
    11. Planner Idul Adha


  • BONUS
    1. Tips Berlibur
    2. Planner Liburan
    3. Notes (sejumlah 3 halaman)

1

SPESIFIKASI:

  • Hard cover depan dan belakang
  • Dua pilihan bahasa:
    – English
    – Bahasa Indonesia
  • Ukuran A5 (setengah dari A4)
  • Isi: 184 halaman
  • Harga: Rp.200,000,-
  • SPECIAL PRICE FOR RESELLERS!

Untuk informasi lebih lanjut, silakan menghubungi:
SMS/Whatsapp: +62813 1443 4633
BBM: 79EC7B89
LINE: kecilmamil
EMAIL: kecilmamil@outlook.com

Hukum Merayakan Natal bagi Kaum Muslim – PART 1/2 (via Islampos)

Pertama: Keharaman Merayakan Hari Raya kaum Kafir dan Mengucapkan Selamat “Hari Raya”

Kaum Muslim haram mengikuti Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) merayakan Hari Natal atau hari raya mereka, serta mengucapkan ucapan “Selamat Natal”, karena ini merupakan bagian dari kegiatan khas keagamaan mereka, atau syiar agama mereka yang batil. Kita pun dilarang meniru mereka dalam hari raya mereka.

Keharaman itu dinyatakan dalam al-Kitab, as-Sunnah dan Ijma’ Sahabat.

Pertama, dalam al-Qur’an, Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ لا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَاماً[الفرقان:72]

“Dan orang-orang yang tidak menyaksikan kemaksiatan, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berguna, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.”
(QS al-Furqan [25]: 72)

Mujahid, dalam menafsirkan ayat tersebut menyatakan, “az-Zûr (kemaksiatan) itu adalah hari raya kaum Musyrik. Begitu juga pendapat yang sama dikemukakan oleh ar-Rabî’ bin Anas, al-Qâdhî Abû Ya’lâ dan ad-Dhahâk.” Ibn Sirîn berkomentar, “az-Zûr adalah Sya’ânain. Sedangkan Sya’ânain adalah hari raya kaum Kristen. Mereka menyelenggarakannya pada hari Ahad sebelumnya untuk Hari Paskah. Mereka merayakannya dengan membawa pelepah kurma. Mereka mengira itu mengenang masuknya Isa al-Masih ke Baitul Maqdis.”[1]

Wajh ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, jika Allah memuji orang-orang yang tidak menyaksikan az-Zur (Hari Raya kaum Kafir), padahal hanya sekedar hadir dengan melihat atau mendengar, lalu bagaimana dengan tindakan lebih dari itu, yaitu merayakannya dan bukan sekedar menyaksikan? Tentu juga dilarang!

Kedua, mengenai as-Sunnah, dalil yang menyatakan keharamannya adalah hadits Anas bin Malik ra, yang menyatakan:

قَدَمَ رَسُوْلُ الله [صلم] اَلْمَدِيْنَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا، فَقَالَ: مَا هَذَا اْليَوْمَانِ؟ قَالُوْا: كُنَّا نَلْعَبُ فِيْهِمَا فِيْ الْجَاهِلِيَّةِ، فَقَالَ رَسُوْلُ الله [صلم]: إنَّ اللهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْراً مِنْهُمَا: يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ [رواه أبو داود، وأحمد، والنسائي على شرط مسلم]

“Rasulullah saw. tiba di Madinah, sementara mereka (penduduk Madinah) mempunyai dua hari, dimana mereka sedang bermain pada hari-hari tersebut, seraya berkata, ‘Dua hari ini hari apa?’ Mereka menjawab, ‘Kami sejak zaman Jahiliyyah bermain pada hari-hari tersebut.’ Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik: Hari Raya Idul Adhha dan Hari Raya Idul Fitri.”
(HR Abu Dawud, Ahmad dan an-Nasa’i dengan syarat Muslim)

Wajh ad-dalâlah (bentuk penunjukan dalil)-nya adalah, bahwa kedua hari raya Jahiliyyah tersebut tidak diakui oleh Rasulullah saw. Nabi juga tidak membiarkan mereka bermain pada kedua hari yang menjadi tradisi mereka. Sebaliknya, Nabi bersabda, Sesungguhnya Allah telah mengganti keduanya dengan hari yang lebih baik.” Pernyataan Nabi yang menyatakan,“mengganti” mengharuskan kita untuk meninggalkan apa yang telah diganti. Karena tidak mungkin antara “pengganti” dan “yang diganti” bisa dikompromikan. Sedangkan sabda Nabi saw, “Lebih baik dari keduanya.”mengharuskan digantikannya perayaan Jahiliyah tersebut dengan apa yang disyariatkan oleh Allah kepada kita.

Ketiga, tindakan ‘Umar dengan syarat yang ditetapkannya kepada Ahli Dzimmah telah disepakati oleh para sahabat, dan para fuqaha’ setelahnya, bahwa Ahli Dzimmah tidak boleh medemonstrasikan hari raya mereka di wilayah Islam. Para sahabat sepakat, bahwa mendemonstrasikan hari raya mereka saja tidak boleh, lalu bagaimana jika kaum Muslim melakukannya, maka tentu tidak boleh lagi.

‘Umar pun berpesan:

إِيَّاكُمْ وَرِطَانَةَ الأَعاَجِمِ، وَأَنْ تَدْخُلُوْا عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ يَوْمَ عِيْدِهِمْ فِيْ كَنَائِسِهِمْ فَإِنَّ السُّخْطَةَ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمْ [رواه أبو البيهقيإسناد صحيح].

“Tinggalkanlah bahasa kaum ajam (non-Arab). Janganlah kalian memasuki (perkumpulan) kaum Musyrik dalam hari raya mereka di gereja-gereja mereka. Karena murka Allah akan diturunkan kepada mereka.”
(HR al-Baihaqi dengan Isnad yang Shahih)

Ibn Taimiyyah berkomentar, “Umar melarang belajar bahasa mereka, dan sekedar memasuki gereja mereka pada Hari Raya mereka. Lalu, bagaimana dengan mengerjakan perbuatan mereka? Atau mengerjakan apa yang menjadi tuntutan agama mereka. Bukankah melakukan tindakan mereka jauh lebih berat lagi? Bukanlah merayakan hari raya mereka lebih berat ketimbang hanya sekedar mengikuti mereka dalam hari raya mereka? Jika murka Allah akan diturunkan kepada mereka pada hari raya mereka, akibat tindakan mereka, maka siapa saja yang terlibat bersama mereka dalam aktivitas tersebut, atau sebagian aktivitas tersebut pasti mengundang adzab tersebut.”[2]

Hal senada juga dikemukakan oleh Ibn al-Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya, Ahkam Ahl ad-Dzimmah, Juz I/161. Beliau menyatakan, para ulama’ sepakat tentang keharaman mengucapkan “Selamat Hari Raya” kepada mereka, tidak ada perselisihan pendapat.

—–

TO BE CONTINUED

—–

Bibliography:

[1] Lihat, Ibn Taimiyyah,Iqtidha’ as-Shirath al-Mustaqim, Juz I/537; Anis, dkk,al-Mu’jam al-Wasith, Juz I/488.

[2] Lihat, Ibn Taimiyyah, Iqtidha’ as-Shirath al-Mustaqim, Juz I/515.

Written by: Hafidz Abdurrahman, Magister Akidah dan Pemikiran Islam, Univesity of Malaya, Malaysia

Taken from: http://www.islampos.com/hukum-merayakan-natal-bagi-kaum-muslim-34874/3/

Kritik Imam Ghazali Terhadap Konsep Ketuhanan Yesus (via Islampos)

Imam al-Ghazali adalah salah seorang ulama klasik yang berusaha keras mematahkan hujjah ketuhanan Yesus. Melalui bukunya yang berjudul al-Raddul Jamil li-Ilahiyati ‘Isa, al-Ghazali membantah ketuhanan Yesus dengan mengutip teks-teks Bibel. Buku ini menarik untuk dikaji karena diterbitkan oleh UNESCO dalam bahasa Arab.

Imam al-Ghazali adalah ulama yang sangat terkenal di zamannya sampai zaman sekarang ini. Nama lengkapnya, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad At-Thusi Asy-Syafi’i (pengikut mazhab Syafi’i). Al-Ghazali lahir 450 H/1058 M dan wafat pada tahun 505H/1111M dalam usia 55 tahun. Karyanya tidak kurang dari 200 buku, dan di antara karyanya yang sangat monumental adalah “Ihya ‘Ulumiddin” (Revival of Religious Sciences). Ia dikenal sebagai seorang filosof, ahli tasawwuf, ahli fikih, dan juga bisa dikatakan sebagai seorang Kristolog. Ini terbukti lewat karyanya al-Raddul Jamil, yang ditulisnya secara serius dan mendalam.

Dalam bukunya, Al-Ghazali memberikan kritik-kritik terhadap kepercayaan kaum Nasrani yang bertaklid kepada akidah pendahulunya, yang keliru. Kata al-Ghazali dalam muqaddimah bukunya: “Aku melihat pembahasan-pembahasan orang Nasrani tentang akidah mereka memiliki pondasi yang lemah. Orang Nasrani menganggap agama mereka adalah syariat yang tidak bisa di takwil”

Imam al-Ghazali juga berpendapat bahwa orang Nasrani taklid kepada para filosof dalam soal keimanan. Misalnya dalam masalah al-ittihad, yaitu  menyatunya zat Allah dengan zat Yesus. Al-Ghazali membantah teori al-ittihad kaum Nasrani. Menurutnya, anggapan  bahwa Isa a.s. mempunyai keterkaitan dengan Tuhan seperti keterkaitan jiwa dengan badan, kemudian dengan keterkaitan ini terjadi hakikat ketiga yang berbeda dengan dua hakikat tadi, adalah keliru. Menurutnya, bergabungnya dua zat dan dua sifat (isytirak), kemudian menjadi hakikat lain yang berbeda adalah hal yang mustahil yang tidak diterima akal.

Dalam pandangan al-Ghazali, teori al-ittihad ini justru membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Al-Ghazali menggunakan analogi mantik atau logika. Ia berkata, ketika Yesus disalib, bukankah yang disalib adalah Tuhan, apakah mungkin Tuhan disalib? Jadi, Yesus bukanlah Tuhan. Penjelasannya dapat dilihat pada surat an-Nisa ayat 157:  ”Dan tidaklah mereka membunuhnya (Isa a.s.) dan tidak juga mereka menyalibnya akan tetapi disamarkan kepada mereka”.

Selain al-ittihad, masalah al-hulul tak kalah pentingnya. Menurut Al-Ghazali,  makna al-hulul, artinya zat Allah menempati setiap makhluk, sebenarnya dimaksudkan sebagai makna majaz atau metafora. Dan itu digunakan sebagai perumpamaan seperti kata “Bapa” dan ”Anak”. Misalnya seperti dalam Injil Yohannes pasal 14 ayat 10:   “Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku. Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dia-lah yang melakukan pekerjaan-Nya.”

Dalam melakukan kajiannya, Imam  al-Ghazali merujuk kepada Bibel kaum Nasrani. Dalam al–Raddul Jamil, al-Ghazali mencantumkan enam teks Bibel yang menurutnya menafikan ketuhanan Yesus, dan  dikuatkan dengan teks-teks Bibel lainnya sebagai tafsiran teks-teks yang enam tadi.

Di antara teks yang dikritisi oleh al-Ghazali adalah Injil Yohannes pasal 10 ayat 30-36, “Aku dan Bapa adalah satu. Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-ku yang kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah diantaranya yang menyebabkan kamu mau melempari aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari engkau, melainkan karena engkau menghujat Allah dan karena engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan dirimu dengan Allah”. Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah – sedangkan kitab suci tidak dapat dibatalkan- masihkan kamu berkata kepada dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia.” (Teks dikutip dsri Bibel terbitan Lembaga Al-kitab Indonesia; Jakarta 2008)

Teks ini, menurut al-Ghazali, menerangkan masalah al-ittihad (menyatunya Allah dengan hamba-Nya). Orang Yahudi mengingkari perkataan Yesus “aku dan Bapa adalah satu”. Al-Ghazali berpendapat, perkataan Yesus, Isa A.S. “..aku dan Bapa adalah satu” adalah makna metafora. Al-Ghazali mengkiaskannya seperti yang terdapat dalam hadits Qudsi, dimana Allah berfirman: “Tidaklah mendekatkan kepadaKu orang-orang yang mendekatkan diri dengan yang lebih utama dari pada melakukan yang Aku fardhukan kepada mereka. Kemudian tidaklah seorang hamba terus mendekatkan diri kepadaKu dengan hal-hal yang sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang ia mendengar dengannya, penglihatan yang ia melihat dengannya, lisannya yang ia berbicara dengannya dan tangannya yang ia memukul dengannnya.”

Menurut Al-Ghazali, adalah mustahil Sang Pencipta menempati indra-indra tersebut atau Allah adalah salah satu dari indra-indra tersebut. Akan tetapi seorang hamba ketika bersungguh-sungguh dalam ta’at kepada Allah, maka Allah akan memberikannya kemampuan dan pertolongan yang ia mampu dengan keduanya untuk berbicara dengan lisan-Nya, memukul dengan tanganNya, dan lain-lainnya. Makna metafora dalam teks Bibel dan hadits Qudsi itulah yang dimaksudkan bersatunya manusia dengan Tuhan, bukan arti harfiahnya.

Demikianlah, di abad ke-12 M, Imam al-Ghazali telah melalukan kajian yang serius tentang agama-agama selain Islam. Kajian ini tentu saja sesuatu yang jauh melampaui zamannya. Kritiknya terhadap konsep Ketuhanan Yesus jelas didasari pada keyakinannya sebagai Muslim, berdasarkan penjelasan al-Quranul Karim. Al-Ghazali bersifat seobjektif mungkin saat meneliti fakta tentang konsep kaum Kristen soal Ketuhanan Yesus. Tapi, pada saat yang sama, dia juga tidak melepaskan posisinya sebagai Muslim saat mengkaji agama-agama lain.

—–

Written by: Rachmat Morado Sugiarto, M.A., Alumnus Universitas Mulay Islamil, Meknes, Maroko

Taken from: http://www.islampos.com/kritik-imam-ghazali-terhadap-konsep-ketuhanan-yesus-33243/

Tanyakan pada Orang Syiah soal “Ali dan Husein” (via Islampos)

Tanyakan pada orang-orang Syiah: “Menurut Anda, mana yang lebih utama, Ali atau Husein?”

Maka dia akan menjawab: “Tentu saja Ali bin Abi Thalib lebih utama. Ali adalah ayah Husein, dia lebih dulu masuk Islam, terlibat dalam banyak perang di zaman Nabi, juga pernah menjadi Khalifah yang memimpin Ummat Islam.”

Atau bisa saja, ada pendapat di kalangan Syiah bahwa kedudukan Ali sama tingginya dengan Husein.

Kemudian tanyakan ke dia: “Jika Ali memang dianggap lebih mulia, mengapa kaum Syiah membuat peringatan khusus untuk mengenang kematian Husein saat Hari Asyura pada setiap tanggal 10 Muharram? Mengapa mereka tidak membuat peringatan yang lebih megah untuk memperingati kematian Ali bin Abi Thalib? Bukankah Ali juga mati syahid di tangan manusia durjana? Bahkan beliau wafat saat mengemban tugas sebagai Khalifah.”

Faktanya, peringatan Hari Asyura sudah seperti “Idul Fithri” bagi kaum Syiah. Hal itu untuk memperingati kematian Husein bin Ali. Kalau orang Syiah konsisten, seharusnya mereka memperingati kematian Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu lebih dahsyat lagi.

—–

Written by: Arief Hidayat from the book “10 Logika Dasar Penangkal Syiah”

Taken from: http://www.islampos.com/tanyakan-pada-orang-syiah-soal-ali-dan-husein-97619/

Apa Itu Mulkhan Adhan? (via Islampos)

“Periode an-Nubuwwah (kenabian) akan berlangsung pada kalian dalam beberapa tahun, kemudian Allah SWT mengangkatnya, setelah itu datang periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah (kekhalifahan atas manhaj kenabian), selama beberapa masa hingga Allah SWT ta’aala mengangkatnya, kemudian datang periode mulkan aadhdhon (penguasa-penguasa yang menggigit) selama beberapa masa, selanjutnya datang periode mulkan jabbriyyan (penguasa-penguasa yang memaksakan kehendak/masa keburukan) dalam beberapa masa hingga waktu yang ditentukan Allah SWT ta’aala, setelah itu akan terulang kembali periode khilafatun ‘ala minhaj an-Nubuwwah. Kemudian Nabi Muhammad saw diam,”
(HR Ahmad 17680)

Period Mulkhan Adhan adalah periode masa di mana ummat Islam dipimpin dengan pola kerajaan selama masa yang cukup lama yaitu sejak tahun 40 H hingga tahun 1342 H atau sekitar 13 abad, tepatnya selama 1302 tahun.

Babak ini terutama ditandai dengan berdirinya tiga kerajaan Islam besar:

  1. Daulah Bani Umayyah
  2. Daulah Bani Abbasiyyah
  3. Kesultanan Utsmani Turki yang di dalam berbagai kitab sejarah dunia (Barat) lebih dikenal dengan The Ottoman Empire.

Hingga pada tanggal 3 Maret 1924 M (28 Rajab 1342 H), orang-orang pengkhianat Islam atas nama kebebasan yang dipimpin oleh Mustafa Kemal Pasha berhasil menjagal Khilafah Utsmaniyyah.

Majelis Nasional Agung yang berada di Turki menyetujui tiga buah undang-undang yaitu:

  1. Menghapuskan kekhalifahan,
  2. Menurunkan khalifah
  3. Mengasingkan khalifah bersama-sama dengan keluarganya.

Penyebab utama runtuhnya Khilafah Utsmani adalah karena jauhnya masyarakat juga sistem pemerintahan dari Al Quran, sehingga mudah dilemahkan dan dikalahkan. Setelah runtuhnya sistem pemerintahan Islam, maka selanjutnya ummat Islam mulai menjalani kehidupan dengan mengekor kepada pola kehidupan bermasyarakat dan bernegara ala Barat.

Dari sisi lain, periode Mulkan Adhdhan ini dulu dimulai dengan pembunuhan kaum muslimin oleh kaum khawarij seperti pembunuhan Khalifah Ali bin Abi Thalib, pembantaian putra beliau sekaligus cucu Rasulullah Sayyidina Husein, dan pembantaian-pembantaian lainnya. Kemudian dilanjutkan pada masa-masa Khilafah Islamiyah Dinasti Umayyah, Dinasti Abbasiyyah, dan Dinasti Turki Usmaniyah.

Mereka hanya menggigit Al Qur’an dan Sunnah sehingga di beberapa tempat muncul dakhanun, yaitu “mensunnahkan selain sunnahku dan memberi petunjuk dengan selain petunjukku”. Salah satu contohnya adalah pergantian pemimpin yang selalu diwariskan kepada putra/pangeran mahkota, yang ini adalah bukan tuntunan Rasul saw.

—-

Taken from: http://www.islampos.com/apa-itu-mulkhan-adhan-78019/

Khalifah Abdul Hamid II & Teater Drama ‘Muhammad & Kemunafikan’ (via Islampos)

Di antara tanda kecintaan kita kepada Rasulullah adalah sikap marah, benci dan sikap pembelaan ketika beliau direndahkan. Seperti misalnya ketika beliau dianggap kejam, penipu, hidung belang, pedofilia, keranjingan seks, dan menyetujui pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur, sebagaimana yang dipropagandakan dalam film Innocence Muslims, yang dibuat oleh seorang pria keturunan Israel-Amerika, Sam Bacile, dan didukung oleh pastor Terry Jones, pastur yang 2 tahun lalu merencanakan pembakaran al Qur’an.

Sungguh sangat aneh sikap yang melarang umat Islam marah, padahal jika orang tuanya saja yang dilecehkan sedemikian rupa tentunya mereka akan marah. Terlebih lagi marah karena Allah juga merupakan tanda kesempurnaan iman, sebagaimana sabda Nabi saw:

“Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.”
(HR. Abu Dawud dari Abu Umamah dengan sanad sahih)

Jika kita bisa marah kepada siapa pun yang menghina bapak-ibu kita, sudah sepatutnya kita lebih marah terhadap penghina Rasulullah saw yang lebih kita cintai.

Dalam pandangan Islam, sanksi yang dijatuhkan kepada penghina dan penghujat Rasulullah saw dan juga Nabi yang lain adalah hukuman mati. Jika ia muslim maka statusnya adalah murtad. Imam al-Khattabiy berkata, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat mengenai wajibnya hukuman mati bagi seorang Muslim yang menghina Rasulullah SAW. ” 

Adapun jika ia non muslim ahludz dzimmah maka ada perbedaan pendapat yang menurut Imam as Syafi’iy, mereka wajib dibunuh, dan dzimmahnya dicabut. Abu Hanifah menyatakan tidak wajib dibunuh (hukumannya diserahkan kepada kepala negara/ta’zir), sedangkan Imam Malik berpendapat, mereka wajib dibunuh kecuali jika mau masuk Islam.

Pelecehan dan penghinaan terhadap Rasulullah saw dan hal yang disucikan Islam ini bukan yang pertama kalinya, dulu ada Salman Rushdi dengan buku The Satanic Verses atau Tatyana Suskin (26) dengan 20 poster yang menghina Islam dan Nabi Muhammad.

Pertanyaan penting yang patut diajukan, mengapa penistaan, penghinaan, dan pelecehan terus dilakukan kaum kafir Barat sekalipun selalu menuai protes dan kecaman dari dunia Islam? Penyebabnya, karena mereka belum pernah mendapatkan ‘pelajaran’ yang setimpal dengan perbuatannya. Tidak ada lagi khilafah yang memerankan dirinya sebagai penjaga Islam.

Saat Khilafah memudar sekalipun, Khalifah Abdul Hamid II masih bisa menghentikan rencana pementasan teater yang menghina Rasulullah dan Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy, bukan di dalam negeri, melainkan diluar negeri, yakni di Perancis dan Inggris.

Ketika itu Perancis pernah merancang mengadakan pementasan drama teater yang diambil dari karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Rasulullah SAW. Drama itu bertajuk“Muhammad atau Kefanatikan” dan disamping mencaci Rasulullah SAW, ia juga menghina Zaid dan Zainab. Begitu mengetahui berita pementasan itu, Abdul Hamid memberi perintah kepada pemerintah Perancis melalui dutanya di Paris supaya memberhentikan pementasan drama itu dan mengingatkan akan akibat politik yang bakal dihadapi oleh Perancis jika ia meneruskan pementasan itu.

Perancis dengan serta merta membatalkannya. Kumpulan teater itu datang ke Inggris untuk merancang melakukan pementasan yang serupa dan sekali lagi Abdul Hamid memberi perintah kepada Inggris. Inggris menolak perintah itu dengan alasan tiket-tiket telah dijual dan pembatalan drama itu adalah bertentangan dengan prinsip kebebasan (freedom) rakyatnya. Perwakilan Uthmaniyah di Inggris mengatakan kepada Inggris bahwa walau pun Perancis mengamalkan ‘kebebasan’ tetapi mereka telah mengharamkan pementasan drama itu. Inggris juga menegaskan bahwa kebebasan yang dinikmati oleh rakyatnya adalah jauh lebih baik dari apa yang dinikmati oleh Perancis.

Setelah mendengar jawapan itu, Abdul Hamid sekali lagi memberi perintah:

Saya akan mengeluarkan perintah kepada umat Islam dengan mengumumkankan bahwa Inggris sedang menyerang dan menghina Rasulullah kami! Saya akan kobarkan Jihad al-Akbar (Jihad yang besar).”

Inggris dengan serta merta melupakan keinginannya mengamalkan “kebebasan berpendapat” (freedom of speech) dan pementasan drama itu dibatalkan.

Di sinilah pentingnya sebuah negara yang menerapkan, mendakwahkan dan menjaga Islam. Tidak heran jika hujjatul Islam, Imam Al Ghazali dalam Al Iqtishad fil I’tiqad menuliskan:

Agama dan kekuasaan bagaikan saudara kembar. Agama adalah asasnya dan kekuasaan adalah penjaganya, apa saja yang tidak memiliki asas maka akan hilang dan apa saja yang tidak memiliki penjaga maka akan hancur.

—–

Edited by: @pokamamil

Taken from: http://www.islampos.com/khalifah-abdul-hamid-ii-teater-drama-muhammad-kemunafikan-16647/