The importance of shalat as the identity and the key to problems that have been ravaging our Ummah from time to time. During his dying state, Umar bin Khattab set us a perfect example as to why we should not forget to perform shalat no matter what the excuse is.

—–

Produced by: The Merciful Servant

Video: The Assassination of Umar bin Khattab (RA) (via The Merciful Servant)

Khilafah Adalah Warisan Rasulullah, Bukan ISIS

Beberapa bulan terakhir ini, Kaum Muslimin di seluruh dunia digemparkan oleh berita tegaknya ‘Khilafah’ yang diproklamasikan oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Kelompok yang mengakui dirinya sebagai gerakan mujahidin di sebagian wilayah Irak dan Suriah ini, mengangkat Abu Bakar Al Baghdadi sebagai khalifah mereka. Sontak, semua dunia pun tertuju pada berita yang disebar melalui berbagai media sosial.

Hanya saja, ‘Khilafah’ ala ISIS ini menuai kontroversi. Tidak sedikit umat Islam yang sudah merindukan Khilafah menyatakan dukungannya terhadap ISIS dan bahkan telah ada sebagian dari mereka yang bergabung dan menyatakan baiatnya pada sang khalifah. Namun, sebagian ulama besar kaum Muslimin, serta banyak gerakan-gerakan Islam lainnya menolak atas penegakkan Khilafah versi ISIS ini.

ISIS memang menuai kontroversi. Mereka disebutkan telah banyak melakukan tindakan kekerasan secara otoriter dan brutal terhadap warga Muslim maupun non-Muslim. Semua ini tentunya akan menimbulkan pemahaman yang keliru akan penerapan Syariah dan Khilafah sejati yang merupakan warisan Rasulullah saw.

Bagaimana Seharusnya Menyikapi Khilafah ala ISIS?

Beberapa waktu yang lalu, setelah pendeklarasian Khilafah oleh ISIS yang beritanya telah beredar hingga ke seluruh penjuru dunia, MUI menggelar pertemuan para pimpinan ormas Islam untuk dalam rangka menyikapi perkembangan isu ISIS di Indonesia.

Para tokoh ulama yang dikumpulkan tersebut sepakat bahwa umat Muslim jangan sampai kontraproduktif terhadap gagasan dan ajaran syariat Islam, terutama Khilafah. Kelompok ISIS adalah kelompok jihadis. Namun, tindakan mereka begitu brutal dan di luar kendali. Bahkan mereka membunuh sesama para mujahid. Sehingga, Khilafah yang mereka tegakkan itu wajib dipertanyakan, apakah sesuai dengan syara’? Dari sini, umat Muslim harus memahami secara pasti metode penegakkan Khilafah secara syari’.

Isu Khilafah ISIS ini jangan sampai memonsterisasi syariah dan khilafah terhadap umat Muslim itu sendiri. Hal pertama yang diperlukan dalam menyikapi isu ISIS ini adalah sikap proporsional, waspada, dan hati-hati. Jangan sampai, isu kasus ISIS ini membuat semua hal yang berbau syariah dan khilafah itu berbahaya dan menolak mentah-mentah terhadap ide ini. Bahkan sampai menjerat dan menuduh orang-orang yang dengan ikhlas memperjuangkan syariah dan khilafah Islam sesuai dengan ajaran Rasulullah itu sebagai teroris.

Padahal, tidak kurang dari 39 hadist Rasulullah berbicara tentang khilafah. Jadi, sebagai umat Islam, kita perlu hati-hati dalam menyikapi isu ISIS ini, jangan sampai isu ini dijadikan sebagai alat monsterisasi terhadap syariah dan khilafah. Umat tentu butuh untuk mengkaji secara detail dan mendalam tentang bagaimana cara menegakkan Khilafah ala Minhaj Nubuwwah yang dijanjikan Allah dalam salah satu hadist Rasulullah saw.

Khilafah Sejati

Khilafah berasal dari Islam. Khilafah berasal dari Al Quran, Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Tentu, umat Muslim seluruhnya wajib untuk mendukung keberadaannya. Hanya saja, Khilafah yang harus kita pahami dan kita perjuangkan adalah Khilafah yang sesuai dengan model pemerintahan Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin. Inilah yang dinamakan Khilafah Rasyidah ala Minhaj Nubuwwah, yaitu khilafah yang memiliki metode sesuai yang digariskan oleh Rasulullah saw.

Sedangkan Khilafah yang dideklarasikan ISIS belum dikatakan memenuhi syara’. Oleh karena itu, hal ini masih menjadi pro dan kontra bagi banyak pihak. Mengapa khilafah ISIS belum memenuhi ketentuan syara’?

Pertama, kekhilafahan haruslah memiliki wilayah secara otonom dan penuh. Sedangkan, ISIS menguasai beberapa wilayah di Irak dan sebagian di Suriah, dalam artian, mereka masih berada di dalam kekuasaan pemerintah Irak dan sebagian lagi masuk di dalam kewenangan Suriah. Kekuasaan ISIS berada di dalam Negara yang telah memiliki standarisasi hukum. Artinya, mereka tidak sepenuhnya berkuasa.

Kedua, keamanannya belum berada di tangan kaum Muslimin. Sekalipun ISIS merupakan kelompok jihadis, hanya saja mereka masih harus bertempur untuk melawan militer penguasa yang dianggap sah di negeri itu.

Ketiga, sebuah khilafah yang sejati haruslah menegakkan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah). Artinya, mulai dari hal kecil hingga tataran besar seperti pemerintahan, politik, ekonomi, peradilan, dan sistem lainnya harus diterapkan hukum Islam secara menyeluruh, baik, dan benar. Keempat, khalifah yang memimpin khilafah tersebut haruslah memenuhi syarat-syarat pengangkatan khalifah, yaitu : muslim, baligh, laki-laki, berakal, merdeka, mampu, dan adil (tidak fasik). Itulah yang mencirikan khilafah yang sebenarnya. Sedangkan ISIS dianggap oleh banyak ulama faqih belum memenuhi itu semua.

Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah dibangun oleh pondasi umat yang menerima dan meyakini kumpulan pemahaman, standarisasi, dan keyakinan Islam yang diterapkan kepada mereka. Metode yang digunakan untuk membangun Khilafah Rasyidah ini pun harus mengikuti tahapan metode Rasulullah dan para sahabat dalam mendirikan Negara. Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dan sempurna. Khilafah akan sangat menjaga akidah, darah, kehormatan, harta, jiwa, akal, dan keturunan penduduknya, baik Muslim maupun non-Muslim secara adil. Begitulah Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah yang dijanjikan Allah swt. dalam salah satu hadits Rasulullah saw.

“’…Selanjutnya, akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.’ Beliau kemudian terdiam.” (HR. Ahmad)

Khilafah wajib diperjuangkan dan ditegakkan di bumi Allah ini. Bukan malah ditakuti bahkan diberangus para pengembannya. Khilafah yang wajib diperjuangkan adalah Khilafah yang sesuai dengan metode Rasulullah saw. Allah telah menjanjikan kedatangannya kembali. Itulah Khilafah yang akan menyelimuti dunia ini dengan keadilan, kebaikan, dan kesejahteraan. Khilafah ini yang akan menjadi solusi bagi segala permasalahan yang terjadi pada saat ini. Khilafah warisan Rasulullah inilah yang akan menjadi tonggak kebangkitan dan kemuliaan umat Muslim di seluruh dunia.

Wallahu’alam bisshawab.

—–

Edited by @pokamamil

Written by: Ariefdhianty Vibie H., Wiraswasta, Bandung

Quote #12

“Feel not lonely by the strangeness that you sense amongst the people, for the people are considered to be like those who are dead.

Have you not come to know, that ahlus Sunnah are truly the strangers in every era?”

- Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah r.a

Mengenal Kembali Walisongo Secara Objektif

Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.

Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo), namun sebetulnya ada tujuh angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syaikh Maulana Malik Ibrahim asal Turki yaitu pada tahun 1400an.

Sang syeikh merupakan ahli ilmu politik dan irigasi sehingga karena ilmu inilah yang menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa dan Sultan Aliyudin. Sehingga sesungguhnya masyarakat Banten memiliki hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada pula Syaikh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga ternyata berasal dari Palestina. Selain itu Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).

Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh bila ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.

—–

Written by: HM. Ismail Yusanto

Edited by: @pokamamil

Taken from: http://www.islampos.com/mengenal-kembali-walisongo-secara-objektif-131640/

Dari Muhammad Utusan Allah, Kepada Heraklius, Pembesar Romawi (via Islampos)

Bazzar telah memberitakan dari Dihyah Al-Kalbi ra. dan berkata:

“Aku telah diutus oleh Rasulullah SAW dengan membawa sepucuk surat kepada Kaisar, Pembesar Romawi. Bila aku tiba di negerinya, aku terus mendatanginya, lalu aku serahkan surat itu kepadanya, sedang di sampingnya keponakannya yang berkulit merah, dan berambut lurus. Dia pun membaca surat itu yang berbunyi (Nas surat menyurat itu tersebut di dalam Al-Bidayah Wan-Nihayah 3:83).

“Dari Muhammad Utusan Allah, kepada Heraklius, Pembesar Romawi.”

Mendengar bunyi surat itu, Pembesar Romawi mulai marah, lalu menyanggah: “Surat ini tidak boleh dibaca sekarang!” dia menyeringai.

“Kenapa?” tanya Kaisar.

“Dia memulai dengan namanya dulu sebelum engkau. Kemudian dia memanggilmu dengan pembesar Romawi, bukan Kaisar Romawi!”.

“Tidak,” sambut Kaisar, “Biarlah surat ini dibaca untuk diketahui isinya.”

Surat Nabi SAW itu terus dibacakan hingga selesai. Setelah semua pengiring-pengiring Kaisar keluar dari majelisnya, akupun dipanggil untuk masuk.

Bersamaan dengan itu dipanggilkan Uskup yang mengetahui seluk-beluk agama mereka. Kaisar lalu memberitahu Uskup itu dan dibacakan sekali lagi surat itu kepadanya.

“Inilah yang selalu kita tunggu-tunggu, dan Nabi kita Isa sendiri telah memberitahukan kita lama dulu!” jawab Uskup itu kepada Kaisar.

“Bagaimana pendapatmu mengenai keputusan yang harus aku buat?” tanya Kaisar kepada Uskup.

“Kalau engkau tanya pendapatku, aku tentu akan mempercayainya dan akan mengikut ajarannya”, jawab Uskup dengan jujur.

“Tetapi aku menjadi serba salah”, kata Kaisar, “Jika aku ikut nasihatmu, akan hilanglah kerajaanku!”

Kami pun keluar meninggalkan tempat itu. Sungguh sebuah kebetulan bahwa waktu itu, Abu Sufyan bin Harb sedang berada di tanah Romawi. Maka dipanggillah Abu Sufyan oleh Kaisar dan ditanyakan mengenai siapa sosok Nabi Muhammad SAW itu sebenarnya.

“Coba engkau beritahu kami tentang orang yang mengaku Nabi di negerimu itu”, tanya Kaisar.

“Dia seorang anak muda”, jawab Abu Sufyan.

“Bagaimanakah kedudukannya dalam pandangan masyarakat kamu? Apakah dia seorang yangmulia?”

“Tentang kedudukannya dan keturunannya, memang tiada siapa yang melebihi kedudukan dan keturunannya!” jawab Abu Sufyan jujur.

“Ini tentulah tanda-tandanya kenabian”, Kaisar berbisik-bisik kepada orang-orang yang di sampingnya.

“Bagaimana bicaranya, adakah dia selalu berkata benar?”

“Benar”, jawab Abu Sufyan. “Dia memang tidak pernah berkata dusta”.

“Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!” Kaisar terus berbisik-bisik kepada orang-orang yang mengiringnya itu.

“Baiklah”, kata Kaisar lagi, “Orang yang rnengikutinya dari rakyatmu itu, adakah dia meninggalkan agamanya lalu kembali semula kepadamu?”

“Tidak”, jawab Abu Sufyan.

“Ini lagi satu tanda-tandanya kenabian!” kata Kaisar pula. “Adakah terjadi peperangan di antara kamu dengannya?”

“Ada!” jawab Abu Sufyan.

“Siapa yang selalu menang?”

“Kadang-kadang dia mengalahkan kita, dan kadang-kadang kita mengalahkannya”, jelas Abu Sufyan.

“Ini lagi satu tanda-tanda kenabian!” kata Kaisar Romawi itu.

Berkatalah Dihyah Al-Kalbi ra. seterusnya:

“Maka aku pun dipanggil oleh Kaisar Romawi itu, seraya dia berkata kepadaku: “Sampaikanlah berita kepada pembesarmu itu, bahwa aku tahu dia memang benar Nabi”, dia menunjukkan muka yang sungguh benar dalam kata-katanya. “Tetapi apa daya”, katanya lagi, “Aku tak dapat buat apa-apa, kerana aku tidak bersedia ditumbangkan dari kerajaanku!”

Bagi sang Uskup sendiri gerejanya ramai dikunjungi dan ia masih tetap berdakwah agama Nasrani, tetapi apabila tiba hari Minggu sesudah misa, dia terus berdiam di rumahnya dan tidak mau keluar seperti biasanya. Sesudah perkenalan hari pertama, aku sering datang kepadanya untuk berbicara mengenai agama Islam dan dia terus-menerus menanyakanku tentang Nabi SAW.

Minggu berikutnya, Uskup itu terus berdiam diri dan orang ramai merasa kecewa menunggu namun dia tidak kunjung datang juga. Maka datanglah orang ke rumahnya menanyakan kabar dan ia meminta diuzurkan karena alasan sakit. Hal serupa ini berlangsung sehingga berkali-kali sehingga orang semakin mencurigainya. Mereka lalu mengirim utusan kepada Uskup itu dan memberikan peringatan kepadanya, yaitu jika ia tidak mau datang juga ke gereja untuk menyampaikan ajarannya maka mereka akan datang beramai-ramai ke rumahnya dan akan membunuhnya. Mereka telah menyangka bahwa sejak datangnya orang-orang Arab ke Romawi maka sikap Uskup telah banyak berubah.

Uskup Romawi itupun memanggilku datang ke rumahnya. “Ini suratku, ambillah dan serahkan kepada pembesarmu itu”, pesan Uskup itu dengan hati yang tidak tenang. “Sampaikan salamku kepadanya dan beritahukan bahwa aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwasanya Muhammad itu adalah Utusan Allah. Katakan juga, bahwa aku beriman dengannya, mempercayainya, dan menjadi pengikutnya. Dan kaumku telah mengingkari semua kata-kata dan nasihatku, kemudian engkau ceritakanlah pula apa yang engkau saksikan itu”, pesan Uskup itu kepadaku. Apabila Uskup itu enggan datang ke gereja lagi, mereka akan marah dan membunuhnya. (Al-Haitsami: Majma’uz-Zawa’id 8:236-237. Abu Nu’Alm pula meriwayatkan cerita yang sama, tetapi ringkas, dalam Dalaa’ilun-Nubuwah, hal. 121.)

Abdan memberitakan dari Ibnu Ishak yang menukil dari beberapa orang yang mengetahui peristiwa ini. Dikisahkan bahwa Heraklius berkata kepada Dihyah Al-Kalbi ra. “Celaka engkau, memang demi Allah, aku tahu bahwa pembesarmu itu adalah Nabi yang diutus dan dialah orang yang kita tunggu selama ini dan sifatnya tersebut di dalam kitab kami. Akan tetapi, apa daya, aku bimbang aku akan ditumbangkan dari kerajaanku. Kalau tidak karena itu, tentu aku akan mengikutinya. Cobalah engkau pergi ke Uskup kami dan jelaskan tentang perkara pembesarmu itu. Uskup kami lebih dihormati orang dari hal agama dan bicaranya tentu lebih diterima!”

Maka Dihyah pun menemui Uskup itu dan menceritakan berita yang dibawanya itu. Uskup itu berkata: “Pembesarmu itu, demi Allah, adalah seorang Nabi yang diutus, kami mengetahuinya dengan sifat-sifatnya dan namanya!” Uskup itu lalu melepaskan pakaian gerejanya, dan menukarnya dengan pakaian serba putih. Dia pun keluar di khalayak ramai sambil mengisytiharkan penyaksiannya menjadi Islam. Orang ramai pun mengerumuninya dan membunuhnya. (Al-Ishabah 2:216)

—–

Edited by: @pokamamil

Taken from: http://www.islampos.com/dari-muhammad-utusan-allah-kepada-heraklius-pembesar-romawi-4646/