The Ultimate Muslima Planner 2014 Add-on: Downloadable Cute 2014 Calendar with Fasting Reminders by @kecilmamil


Assalamu’alaikum, sisters.

Please click the following link to download for free the additional pages for 2014 calendar of The Ultimate Muslima Planner 2014 >>

The Ultimate Muslima Planner 2014: Cute 2014 Calendar with Fasting Reminder by @kecilmamil

CUTE CALENDAR 2014

We hope it would be useful to keep track with your ibadah for the rest of the year. :)

The Ultimate Planner For Muslim Student 2014

For the second time, The Masjid Chroniclers proudly presents the next product from Kecilmamil – The Ultimate Planner for Muslim Student 2014.

Upon taking a peek inside, it is simply what us as college students and even the children on the way up to teens need to plan our daily schedule better and also reap the benefits from other things inside.

Kindly hear what Kecilmamil has to say about it here!

—–

The Ultimate Planner for Muslim Student 2014 6

Bismillah.

The Ultimate Planner for Muslim Student 2014/2015 by @kecilmamil.

Planner ini di-desain khusus untuk para pelajar Muslim dari tingkat SD sampai dengan kuliah. Terkhusus untuk anak-anak dibawah 5 SD perlu dibimbing oleh orangtuanya dalam tatacara pengisiannya. Planner ini dirancang untuk bulan Juli 2014 hingga Juni 2015 dan telah disesuaikan untuk tahun ajaran baru.

Mengenai spesifikasi produknya adalah sebagai berikut:

  • Cover plastik mika: semi-hard transparan (lebih kokoh dari produk sebelumnya)
  • Ukuran A5 (setengahnya A4)
  • 200 halaman isi dan 2 halaman cover depan belakang, total ada 101 lembar.
  • Harga: Rp.160,000,-
  • Resellers are welcome!

For further info, sila hubungi:
SMS/Whatsapp: +62813-1443-4633
BBM: 25F1FBD5
LINE: kecilmamil
EMAIL: kecilmamil@outlook.com

—–

Berikut adalah isi dari planner-nya:

The Ultimate Planner for Muslim Student 2014 4

  • Introduction:

1. Biodata pemilik buku.
2. List of Favorite Things.
3. Master Goals untuk 1 tahun.
4. Kalender Masehi 2014 & 2015 (plus kalender Hijria).
5. Keseharian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam (3 halaman).
6. Ramadhan planner.
7. Back to School planner.
8. Batas Pergaulan dalam Islam.
9. Tips dalam ber-Sosial Media.
10. Jadwal mata pelajaran.

The Ultimate Planner for Muslim Student 2014 9

  • Monthly Planner:

1. Desain berbeda setiap bulannya.
2. Dilengkapi “Challenge Bulan Ini” untuk melatih kebiasaan-kebiasaan baik yang ingin dihidupkan seperti: sholat di awal waktu, membaca Al-Qur’an setiap hari, dll.
3. Kolom notes.
4. Ayat-ayat Al-Qur’an tentang tauhid dan do’a-do’a dari Al-Qur’an.

12

  • Weekly Planner:

1. Untuk mencatat kegiatan selama seminggu secara lebih rinci.
2. Reminder ibadah sholat wajib dan sholat sunnah (ada 3 kolom kosong untuk ditambahkan sendiri, misalnya: dzikir, shalawat, dll).
3. Ada kolom Qur’an Reading untuk monitor berapa ayat Al-Qur’an yang telah dibaca pada hari itu.
4. Kolom TO DO adalah untuk mencatat kegiatan yang ingin dilakukan, catatan pengingat ulangan harian, dll.
5. Kolom HOMEWORK untuk mencatat PR / tugas yang harus dikerjakan di rumah.

10

  • Monthly Budget:

1. Untuk melatih anak dalam mengatur keungan.
2. Kolom “check this list” untuk monitor target selama 1 bulan. Misalnya (pada kolom ‘buku untuk dibaca’) target bulan ini adalah menyelesaikan buku berjudul Sirah Nabawiyah. Bila hal itu tercapai, berilah tanda (√) di kolom yang tersedia.
3. Terdapat 3 baris kosong untuk target lainnya (selain Buku dan Hafalan Qur’an) yang ingin dicapai setiap bulannya.

The Ultimate Planner for Muslim Student 2014 8

  • Exam Planner:

1. Daftar do’a belajar dari rekomendasi para ulama.
2. How to Maximize Your Study adalah tips-tips bagaimana agar belajar kita lebih nyaman dan fokus.
3. Exam Timetable: untuk mencatat jadwal UTS dan UAS.
4. Daily Test Score Board: untuk mecatat nilai-nilai ulangan harian / kuis setiap minggunya supaya dapat memonitor perkembangan nilai sendiri.
5. Exam Goal Score: ntuk mencatat nilai-nilai UTS dan UAS.

—–

More information: http://www.facebook.com/muslima.planner.by.kecilmamil

Orientalisme, Pelacur Zionisme Berbungkus Studi Islam (via Islampos)

orientalism Orientalisme, Pelacur Zionisme Berbungkus Studi Islam

Berbicara mengenai studi orientalisme, maka kita tidak bisa lepas dari motif politik kaum zionisme. Orientalisme dan misi-misi zionisme bagai dua sisi mata uang yang saling tersambung.

Kebencian kaum Yahudi dalam upayanya menaklukan Islam membuat mereka berpikir sangat panjang dan mendalam. Eksesnya wilayah kajian adalah cara empuk untuk mempreteli Islam satu demi satu.

Namun kendalanya, tidak jarang motif ini tertutup serapat mungkin. Orientalisme seakan-akan tampil manis dengan menyatakan diri terbebas pada misi apapun. Padahal sekalipun thesis itu benar, cepat atau lambat kajian orientalisme pasti akan berimplikasi politis.

Sebab dengan meninggalkan sisi tauhid dalam mengkaji Islam dengan dalih objektifitas, hal ini akan menjalar pada keseluruhan konsep Islam, termasuk pandangan Islam terhadap politik, relasi Islam terhadap Negara, relasi Islam terhadap kuasa, dan tak terkecuali cara pandang Islam terhadap non muslim.

Joseph Von Hammer-Purgstall (1774-1856) digadang-gadangkan sebagai peletak pertama corak kajian orientalisme seperti ini. Sarjana lulusan Vienna Oriental Academy ini terkenal atas kehebatannya sebagai dragoman atau ahli dalam menerjemahkan bahasa dan literatur Arab, Turki, dan Persia. Purgstall tercatat pernah berkiprah pada misi diplomatik pada tahun 1796 dan diangkat sebagai diplomat kedutaan Austria di Istanbul pada tahun 1799.

Crone Briton dalam catatan berjudul Romanticism yang dimuat pada Encyclopedia of Philosophy (1972), menjelaskan ada beberapa ciri implikasi politik dari kajian orientalisme selama ini.

Sikap orientalisme yang negatif memandang Timur akan mengakibatkan bukan saja ketegangan masa silam antara Islam dan Yahudi, namun juga aroma kental konflik Islam dalam Perang Salib. Blunder ini setidaknya menurut Briton akan menekankan pada dua aspek berupa sikap kesewenang-wenangan sekaligus sikap konservatif.

Dengan menggambarkan Islam dalam imej negatif, para orientalis mengharapkan bahwa kelak akan timbul keraguan umat Islam terhadap agamanya dan dengan begitu Barat akan masuk untuk semakin memperkokoh kedudukan agama mereka atas Islam.

Muhammad Al Bahiy, seperti dikutip oleh Mohammad Natsir Mahmudi dalam bukunya Orientalisme Al Qur’an di Mata Barat, mengemukakan dua motivasi para orientalisme yang terkait erat pada misi politis.

  • Pertama, tidak terlepas pada dominasi untuk memperkokoh Imperialisme Barat atas Negara-negara Islam.
  • Kedua, memperkuat semangat perang salib dengan mengatasnamakan kajian Ilmiah dan kemanusiaan.

Sejalan dengan itu, Abdul Latif Tibawi kemudian menyederhanakan persoalan itu semua dengan menyebut kepentingan imperialisme sebagai muara dari kajian orientalisme. Hal ini dilakukan agar kelak Islam tunduk pada dominasi Barat.

Tuduhan orientalis kepada Qur’an

Ada sederetan nama para orientalis yang sangat terkait pada misi zionisme. Mereka-mereka memiliki reputasi dalam melucuti ajaran Islam sehelai demi sehelai.

Nama Orientalis Yahudi yang terhubung dalam melakukan misi itu salah satunya diemban oleh Gustave Von Grunebaum (1909-1972). Ketika Nazi Jerman datang ke Austria di tahun 1938, ia pergi ke Amerika Serikat.

Di AS dia mendapatkan posisi di Institut Asia di New York di bawah Arthur Upham Pope. Pada tahun 1943, ia pergi ke Universitas California, dan menjadi profesor bahasa Arab pada tahun 1949. Selanjutnya pada tahun 1957, ia menjadi profesor Sejarah Timur Dekat.

Pada seluruh karangannya terlihat gejolak permusuhan terpampang nyata terhadap prinsip-prinsip ajaran Islam, diantaranya ia pernah menulis:

1. Islam Abad Pertengahan, terbit pada tahun 1946.

2. Hari-hari Raya Muhammad, terbit tahun 1951.

3. Usaha-usaha menjelaskan Islam Modern, terbit pada tahun 1947.

4. Studi-studi tentang Sejarah Kebudayaan Islam, terbit tahun 1954.

5. Kesatuan dan Keberagamaan dalam Peradaban Islam terbit pada tahun 1955.

Selain itu ada nama Samuel Zwemer. Tentu kita tidak lupa tokoh ini. Zwemer-lah yang menggebu-gebu mengatakan dalam Persidangan Misi Zionis di Jerusalem pada 1935 terkiat taktik melumpuhkan Islam.

Ia berkata,

“Misi utama kita bukanlah menjadikan orang-orang Islam bertukar agama menjadi Kristian atau Yahudi, tetapi cukuplah dengan menjauhkan mereka dari Islam. Kita jadikan mereka sebagai generasi muda Islam yang jauh dari Islam, malas bekerja (untuk Islam), suka berfoya-foya, senang dengan segala kemaksiatan, memburu kenikmatan hidup dan orientasi hidupnya semata-mata untuk menuaskan hawa nafsunya…”

Zwemer terkenal sebagai orientalis yang senantiasa menancapkan permusuhannya terhadap Islam. Ia pernah terlibat dalam mendirikan majalah Al Islam Tahadda lil Aqidatain pada tahun 1908 yang tidak lain sebuah majalah corong Zionisme dalam melemahkan Islam yang terbit pada awal abad 20.

Zwemer juga menerbitkan buku berjudul Al Islam. Buku ini berisikan makalah-makalahnya yang dipersiapkan untuk muktamar misionaris kedua tahun 1911 di Lucknow, India. Menariknya, setelah muktamar itu, semua peserta mendapat sebuah plak sebagai cenderamata.

Pada satu muka plak itu tertulis: “Kenang kenangan dari Lucknow tahun 1911“. Pada muka sebelahnya pula tertulis: “Ya Tuhan! Dunia lslam bersujud kepada-Nya lima kali dalam sehari semalam penuh khusuk. Pandanglah orang-orang lslam itu dengan penuh kasih. llhamilah mereka berkat kedamaian Jesus Christ.”

Akhirnya, untuk menghargai usaha-usaha Samuel Zwemer, warga Amerika mencantumkan namanya pada sebuah Lembaga Studi Teologi untuk persiapan bagi calon misionaris.

Selain itu ada pula Abraham I. Katsh (1908-1998). Ia adalah direktur Institute of Hebrew Studies di Universitas New York. Ia juga terkenal gigih dalam mengkaji Islam. Katsh juga telaten dalam menelusuri sumber-sumber keIslaman, maklum selama ini fokusnya memang pada bidang Gramatika Qur’an.

Hasil dari kegigihannya melunturkan dominasi keilmuan Islam akhirnya membuahkan hasil. Ia menelurkan karya monumentalnya di bidang studi Islam lewat sebuah buku kontroversial berjudul ‘Judaisme and Koran’  (Yahudi dan Al Qur’an) yang terbit tahun 1943 di Dropise College of Hebrew.

Buku ini kemudian menjadi titik tolak permusuhannya terhadap Islam. Ia menyatakan persetujuannya terhadap thesis Abraham Geiger bahwa Al Qur’an tidak lain hanyalah hasil colongan dan curian dari Yahudi. Dengan tegas Katsh mengungkapkan,

“Muhammad, borrowed extensively from Jewish sources. He was fully aware of the Importance of the jewish religion and leaned heavly upon it. He used all sources, the bible, the Talmud, as well as the Apocrypha.”

Katsh menyatakan alasan di balik sikap Muhammad meniru kitab suci Yahudi didasari oleh sikap Muhammad sendiri yang tidak pernah menyatakan diri akan mendirikan sebuah agama baru.

Bagi Katsh, Muhammad tidak pernah berusaha membatalkan Perjanjian Lama dan Baru melainkan hanya sekedar mengangkatnya dalam sebuah kitab suci baru bernama Al Qur’an. Katsh sendiri menyandarkan pendapatnya pada dua surat dalam Al Qur’an yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran.

Katsh juga menuding bahwa Nabi Muhammad mengambil rujukan Kitab Apocrypha sebagai rujukan Al Qur’an. Jika ada yang belum kenal mengenai kitab ini, Apocrypha tidak lain sejumlah kitab suci yang tidak dimasukan dalam bibel Protestan karena asal-usulnya diyakini sudah tidak lagi asli. Kitab-kitab Apocrypha terutama sekali mencakup Kitab-Kitab Perjanjian Lama yang dimasukkan dalam Alkitab Katolik Roma.

Dari upaya-upayanya melakukan dekonstruksi Islam, Katsh tercatat dalam melobi pemerintahan Uni Soviet untuk memperbanyak ribuan dokumen Yahudi yang sempat ditahan oleh pihak Uni Soviet selama Perang Dingin.

Geopolitik Islam dan Zionisme

Keniscayaan politis ini membuat gerakan konspirasi melibatkan beberepa elemen vital dari kajian ketimuran. Perangkat segala aspek dalam Islam, seperti sosial, budaya, dan sejarah menjadi satu paket dalam misi-misi Zionisme ketika menginflitrasi Islam. Edward Said dalam bukunya Orientalism (1978) bahkan menilai bahwa orientalisme bukan saja bermuatan politik, tapi orientalisme adalah konsep geopolitik dengan melibatkan berbagai hal seperti, naskah-naskah estetika, keilmuan, ekonomi, sosiologi, sejarah, dan filologi. Siapakah yang bermain dibalik ini semua? Said mengatakan saham paling besar ada di tridente, Inggris-Prancis-Amerika. Adnan Wizan melihat orientalisme Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, AS, Uni Soviet.

Tapi terlepas dari jumlah mereka, semuanya digerakkan oleh satu aktor sama: Yahudi. Dan disatukan oleh satu misi yang sama: menghancurkan Islam. Kenapa? Meminjam, narasi Said, karena sampai dengan abad 21 bagi orang Eropa, Timur memang merupakan kawasan dengan sejarah kontinuitas demonansi Barat yang tak tertumbangkan. Tak pelak lagi, dalam berbagai hal, Islam adalah provokasi nyata!

Oleh karena itu, para founding father Negara Israel banyak diisi para akademisi. Mereka dosen sekaligus zionis. Mereka hafal dunia Arab dari mulai hal yang kecil sampai yang paling besar.

—–

Source: http://www.islampos.com/orientalisme-pelacur-zionisme-berbungkus-studi-islam-36316/

Hadith #3

Hadis riwayat Ibnu Umar ra: Dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda:

“Ketahuilah!

Masing-masing kamu adalah pemimpin, dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpin.

Seorang raja yang memimpin rakyat adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.

Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap mereka.

Seorang isteri juga pemimpin bagi rumah tangga serta anak suaminya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap yang dipimpinnya.

Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap apa yang dipimpinnya.

Ingatlah!

Masing-masing kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”
(Shahih Muslim No. 3408)

The Dangers of Democracy Series: Masuk Sistem Demokrasi Dalam Sudut Pandang Process Control (via Shoutussalam)

Demokrasi merupakan sebuah ideologi yang oleh umum dianggap sebagai standar kebaikan. Segala sesuatunya akan dianggap lancar dan berhasil jika ada embel-embel demokratis. Hingga saat Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya, pada hari ini (dengan izin kauni dari Allah) memegang kekuasaan dunia melalui PBB, demokrasi seolah-olah (atau memang iya?) sebagai parameter yang harus dilaksanakan di setiap sudut dunia.

Demokrasi telah menjadi alat perang pemikiran. Sehingga beberapa pemikir-pemikir muslim pun bekerja keras untuk berijtihad menyelesaikan persoalan ini. Sehingga di zaman ini muncul solusi-solusi yang beraneka ragam tentang menghadapi demokrasi. Salah satu solusi yang muncul adalah menghadapi demokrasi sebagai bagian dari sistem tersebut, dengan hujjah bahwasanya mereka akan masuk sistem untuk menghancurkan sistem. Lantas benar dan tepatkah sistem ini ?

Produk Yunani, Bukan Islam

Untuk menganalisis sistem dari demokrasi, ada baiknya disajikan dahulu sepintas asal-usul demokrasi. Demokrasi adalah bentuk pemerintahan politik yang kekuasaan pemerintahannya berasal dari rakyat, baik secara langsung atau melalui perwakilan. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani demokratía (kekuasaan rakyat), yang dibentuk dari kata dêmos (rakyat) dan kratos (kekuasaan), merujuk pada sistem politik yang muncul di Yunani Kuno, khususnya Athena, menyusul revolusi rakyat pada tahun 508 SM (BBC, History of Democracy).

Abraham Lincoln dalam pidato di Gettysburg mendefinisikan demokrasi sebagai “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat” (Lansford, Tom (2007). Democracy: Political Systems of the World. Marshall Cavendish). Demokrasi dengan pengertiannya yang kaffah, adalah ideologi yang lahir sebelum zaman RasulullahMereka memiliki ulama-ulama mereka sendiri. Demokrasi modern juga bukan ditegakkan melalui Siddiq Hasan Khan, Imam Ash-Shan’ani, atau Nawawi al-Bantani. Demokrasi modern berpijak pada pemikiran Thomas Hobbes, John Locke, Montesquieu atau Jean Jacques Rosseau.

Permodelan Demokrasi

Untuk menganalisis pola pikir aktivis Islam pro-demokrasi, di sini akan digunakan pendekatan pola pikir control engineering, tepatnya melalui pendekatan diagram proses kontrol.

Demokrasi diibaratkan sebagai sebuah sistem. Di dalamnya terdapat input, proses, dan output. Di dalamnya ada pula komponen lain yang lebih mendetail dan beraneka ragam. Dari diagram di atas, cukup komponen umpan balik (feed back) saja yang akan dibahas. Komponen penyimpanan (storage) diabaikan saja. Umpan balik merupakan komponen yang harus ada dari sistem demokrasi, hingga umpan yang negatif sekalipun. Sehingga kritik dan hujatan kepada pemerintahan adalah hal yang wajar serta mendukung sistem demokrasi.

Sistem demokrasi merupakan piranti bernegara, yang di dalamnya akan dihasilkan produk-produk politik yang mengatur kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan masyarakat. Demokrasi memang berbeda dengan beberapa sistem sekuler klasik lainnya yang pada zaman ini sudah sedikit sekali penganutnya, antara lain otokrasi, di mana sistemnya tidak mengenal umpan balik, terutama yang negatif.

Otokrasi, Otoritarian atau Kediktatoran disebut-sebut kontras dengan sistem demokrasi (Baskara T. Wardaya. 2007. Menelusuri Akar Otoritarianisme di Indonesia. Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat).

Seperti halnya contoh diagram di atas, umpan balik merupakan input yang bernilai negatif. Hal ini bisa dianalogikan dengan kritik dan hujatan yang diterima pemerintahan demokrasi. Berbeda dengan input-input lain yang positif, input negatif atau umpan balik merupakan hasil pengamatan sebuah sensor (berupa media, LSM, aksi demonstrasi dan lain-lain) akan hasil dari porses berlangsungnya pemerintahan, untuk selanjutnya diumpan bailkkan kepada proses input.

Kritik Untuk Masuk Ke Sistem

Dari diagram-diagram di atas, sudah sangat jelas, bahwa sejelek-jelek apapun masukan kepada pemerintah, sekeras-kerasnya kritikan dan hujatan kepada sistem demokrasi, maka ia tetaplah bagian dari sistem yang bertugas menghasilkan keluaran yang lebih bagus. Sehingga tidak ada lagi alasan masuk ke sistem untuk menghancurkan sistem. Alasan ini tidak berlaku bagi kaum bertauhid.

Jika kritikan untuk pemerintah saja ternyata merupakan masukan yang membangun, lantas bagaimana dengan calon-calon yang berkeinginan membangun sistem demokrasi lewat jalur positif ? Menjadi cagub, cabup, cawalkot atau bahkan capres ? Maka ini adalah sebuah penipuan publik kepada umat Islam yang teguh bertauhid. Pengakuan masuk sistem untuk menghancurkan sistem adalah lip service saja.

Maka jalan yang paling fair, adalah bukan menjadi masukan atau umpan balik bagi sebuah sistem, yang hanya akan mendukung sebuah sistem tersebut menjadi berjalan dengan lancar. Solusinya adalah menghancurkan sistem tersebut. Jika sistem tersebut adalah pabrik, maka hancurkan pabriknya, jika sistem tersebut adalah radio, lebih tepatnya banting saja radionya. Tentunya dengan jalan-jalan yang telah ditentukan oleh Islam.

Maka perumpamaan Sufyan ats-Tsauri terhadap qurro’ yang bejat merupakan nasihat yang harus ditekankan berulang-ulang. “Janganlah kamu mendekati atau bergaul dengan para penguasa sedikitpun. Dan jangan sampai ada yang mengatakan kepadamu;(Lakukan saja) supaya kamu dapat membela atau mempertahankan orang yang didholimi atau mengembalikan hak orang yang diambil secara dholim. Karena ini adalah tipu daya iblis…yang dijadikan tangga (dalih) oleh para quroo’ (ahli Al Qur’an) yang bejat.” (Dari Siyarul A’laam An Nubalaa’ XIII/586 dan Jaami’u Bayaanil ‘Ilmi Wa Fadl-lihi I/179). Lantas bagaimana hukumnya menjadi cagub, capres bla.. bla .. bla… di dalam sistem binaan John Locke, Jean Jacques Rousseau dan di bawah kontrol Amerika ?

Janganlah bertanya pada rumput yang bergoyang !

—–

Written by: Kaab As-Sidani - Editor in Chief, Shoutussalam Islamic Media

Source: http://shoutussalam.com/2012/05/masuk-sistem-demokrasi-dalam-sudut-pandang-process-control/