Quote #13

Utsman bin Affan r.a:

“There are four things that are useless, and they are:

1. Knowledge without practice;
2. Wealth without expenditure in the way of Allah;
3. Piety for the sake show prompted by worldliness; and
4. Long life with no stock of good deeds.

Mengapa Syiah Hanya Berpusat di Iran Dan Tidak di Negara Lain? (via Islampos)

Seperti yang kita ketahui, Iran adalah salah satu negara Syiah terbesar di dunia. Iran terkenal dengan sejarahnya yaitu ‘Revolusi (Islam) Iran’ yang dipimpin oleh Ayatullah Khomeini, seorang pemimpin besar Syiah. Namun, pernahkah kita bertanya, “Mengapa Syiah itu berpusat di Iran dan tidak di negara lain?”

Iran merupakan negara yang dahulunya dikenali dengan nama Persia dan merupakan sebuah kerajaan yang besar dimana mayoritas penduduknya menganut agama Majusi (penyembah api, atau lebih dikenal sebagai Zoroaster). Kehidupan mereka mewah dengan harta benda dikarenakan memang tanah Persia indah dan subur serta peradabannya yang maju pada masa itu.

Pada abad ke-7 Masehi, ketika cahaya Islam baru saja menjadi satu kekuatan besar dalam percaturan kekuasaan di dunia, Islam tampil sebagai ‘rising star’ di bawah pimpinan Umar Al-Khattab. Ketika itu, Umar mengembangkan wilayah Islam hingga ke Persia, dimana saat itu dikuasai rezim Sassania. Pertempuran tentara Islam melawan tentara Persia yang dikenal dengan nama peperangan Qadisiyyah, yaitu ketika pasukan yang dipimpin Saad bin Abi Waqqash melawan panglima besar Persia, Rustum. Persia akhirnya kalah dan peperangan demi peperangan menenggelamkan Kekaisaran Persia ke ambang kehancuran. Akhirnya kerajaan Persia benar-benar runtuh dalam Perang Madain pada tahun 651 Masehi.

Pada ketika itu, banyak kaum Majusi yang berpura-pura memeluk agama Islam. Niat mereka hanyalah satu: untuk menghancurkan Islam dari dalam. Mereka menyusun rencana demi meruntuhkan kekuasaan kaum muslimin dengan cara menyelewengkan ajaran Islam dengan mencampuradukkan aqidah Majusi dan Yahudi.

Dan di antara rencana itu adalah dengan pembunuhan Umar Al-Khattab, Khalifah Islam yang telah meruntuhkan kerajaan Majusi Persia. Itulah mengapa Syiah benar-benar benci kepada Umar Al-Khattab. Kebencian yang amat sangat itu bisa dilihat dengan pengagungan Abu Lu’luah (pembunuh Khalifah Umar) dengan gelar ‘Bapak Pembela Agama’.

Sementara salah seorang puteri kaisar terakhir mereka, yaitu Yazdegerd III telah menjadi tawanan kaum Muslimin sejurus setelah kejatuhan Kaisar Persia. Puteri Kaisar itu akhirnya dinikahkan dengan Hussein bin Ali bin Abi Thalib. Maka, karena ini jugalah mereka begitu fanatik dan cenderung ‘mendewakan’ Hussein bin Ali. Hussein memiliki keturunan dari puteri Sassania yang mereka anggap sebagai keramat.

Di sini terjawablah sudah mengapa Syiah berpusat di Iran. Syiah adalah agama yang ‘dilahirkan’ untuk membalas dendam kekalahan Persia terhadap Islam. Syiah adalah simbol hasad dan kemarahan kaum Persia kepada bangsa Arab umumnya dan kaum Muslimin khususnya.

—–

Edited by: @pokamamil

Source: http://www.islampos.com/mengapa-syiah-hanya-berpusat-di-iran-tidak-di-negara-lain-106763/

Anas bin Malik, Sang Pendamping Rasul Yang Setia (via Dakwatuna)

Anas bin Malik sejak usia belianya telah mendapat talqin dua syahadat dari ibunya Al Ghumaisho’. Sejak itu tumbuhlah kecintaan hatinya yang bersih kepada Rasul SAW, bersemangat untuk mendengar langsung darinya, dan tidak heran kalau kadang telinga lebih awal merindukan dari pada penglihatan. Sudah lama anak kecil ini mendambakan bertemu langsung dengan Rasul di Makkah atau di Yatsrib.

Tidak lama berselang, Yatsrib dibahagiakan oleh berita kedatangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya yang sudah lama didamba-dambakan. Tidak satupun keluarga dan hati penduduk Madinah yang tidak berbahagia karena ini. Saat itu semua pemuda menyebarkan berita setiap pagi bahwa Rasulullah SAW akan tiba di Yatsrib.

Pada suatu pagi yang indah, Yatsrib sudah riuh rendah ketika mendengar bahwa rombongan Muhammad SAW telah semakin dekat sehingga semua orang berusaha menyambut beliau. Begitu juga anak-anak, mereka berlomba-lomba ikut menyambut Rasulullah dengan hati yang diliputi kegembiraan yang meluap-luap dan wajah yang berseri-seri. Sementara para wanita  telah berada di atas rumah mereka, menunggu dan berusaha melihat wajah Rasulullah SAW. Hati mereka berkata: “Manakah orang yang disebut Rasul ini?” Sungguh hari itu adalah hari yang bersejarah dan konon peristiwa ini masih terus dikenang oleh Anas sampai nanti kelak usianya hampir seratus tahun.

Belum lama Rasul tinggal di Madinah, datanglah seorang wanita  bernama Al Ghumaiso’ binti Milhan menemui Rasulullah SAW bersama putranya Anas bin Malik dan ia berkata:

يا رسول الله .. . لم يبق رجُلٌ ولا امرأةٌ من الأنصار إلا وقد أتحفك بتُحفَةٍ ، وإني لا أجدُ ما أُتحِفُكَ به غير ابني هذا . .. فخُذْهُ ، فليخدمك ما شئت . . .

Wahai Rasul, tidak satu pun seorang laki-laki dan perempuan dari Anshar ini, kecuali telah memberi hadiah kepadamu, dan sesungguhnya Aku tidak memiliki apa yang dapat aku berikan kepadamu kecuali anakku ini, Maka ambillah anak ini agar dia dapat membantumu kapanpun Anda mau.

Tergugahlah Rasul untuk menerimanya, beliau mengusap kepalanya dan mengangkatnya dalam keluarganya. Saat itu umur Anas sepuluh tahun dan sungguh merupakan kebahagiaannya untuk dapat menjadi pembantu Rasul dan hidup terus bersamanya sampai Rasul dipanggil kembali oleh Allah. Kondisi ini sangat dimanfaatkan oleh Anas untuk menimba langsung hidayah dari Rasul, memahami semua sabdanya, mengetahui sifat-sifatnya serta keutamaannya yang tidak diketahui oleh lainnya.

Anas bercerita:

“Adalah Rasulullah SAW orang yang paling baik akhlaqnya, lapang dadanya, dan banyak kasih sayangnya. Suatu saat beliau menyuruhku untuk suatu keperluan, ketika aku berangkat aku tidak menuju ke tempat yang Rasul inginkan, namun aku pergi ke tempat anak-anak-anak yang sedang bermain di pasar ikut bermain bersama mereka. Ketika aku telah bersama mereka aku merasa ada seseorang berdiri di belakangku dan menarik bajuku, maka aku menoleh dan ternyata dia adalah Rasulullah yang dengan senyum beliau menegurku:

“Ya Unais (panggilan kesayangannya) apakah kamu sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan?” Aku gugup menjawabnya: “Ya, ya Rasul, sekarang aku akan berangkat.”

Demi Allah aku telah menjadi pembantunya selama sepuluh tahun dan tidak pernah aku mendengar ia menegurku: “Mengapa kamu lakukan ini dan itu, atau mengapa kamu tidak melakukan ini atau itu?””

Dan adalah seorang Rasulullah SAW jika beliau memanggilnya selalu dengan panggilan rasa sayang dan memanjakan yaitu dengan memanggilnya dengan kata Unais atau ya bunayya. Begitu juga Rasulullah banyak menasihatinya sampai memenuhi hati dan otaknya.

Di antara nasihat-nasihatnya adalah:

( يا بُنيَّ إن قدرت أن تُصبح وتُمسي وليس في قلبك غش لأحد فافعل . . .

Ya bunayya, jika engkau mampu setiap pagi dan sore hatimu bersih dari perasaan dengki kepada orang lain maka lakukanlah.

يا بُنيَّ إنَّ ذلك من سُنتي ، ومن أحيا سُنتي فقد أحَبَّني .

ومن أحَبَّني كان معي في الجنة .

Ya bunayya, sesungguhnya hal itu adalah sunnahku, barang siapa menghidupkan sunnahku maka mencintaiku, barangsiapa mencintaiku akan bersamaku di surga.

يا بُني إذا دخلت على أهلك فسلم يكن بركَةً عليك وعلى أهل بيتك )

Ya bunayya, jika engkau menemui keluargamu maka berilah salam niscaya akan menjadi keberkahan bagimu dan bagi keluargamu.

Anas bin Malik hidup setelah wafatnya Rasulullah SAW sekitar delapan puluh tahun lebih. Dadanya dipenuhi ilmu yang langsung diambil dari Rasulullah. Otaknya tumbuh dengan pemahaman kenabian. Oleh karena itu sepanjang umurnya, beliau menjadi rujukan umat Islam dan tempat umat bertanya ketika menghadapi permasalahan sulit dan tidak diketahui hukumnya.

Suatu saat terjadi perdebatan tentang keberadaan telaga Nabi nanti di hari kiamat. Maka mereka bertanya kepada Anas tentang masalah ini. Beliau menjawab: “Aku tidak mengira hidup dalam kondisi mendapatkan kalian mendiskusikan tentang telaga. Sungguh aku telah meninggalkan para wanita tua di belakangku, tidaklah di antara mereka shalat kecuali mereka berdoa agar dapat minum dari telaga nabi tersebut.”

Dan seterusnya Anas sepanjang hidupnya selalu mengenang kehidupan Rasulullah. Adalah Anas yang selalu riang setiap kali bertemu dengan Rasulullah, sangat sedih di saat perpisahan, banyak mengulang-ulang sabdanya, sangat perhatian mengikuti perkataannya dan perbuatannya, menyenangi apa yang disenanginya dan membenci apa yang dibencinya.

Hari yang paling berkesan baginya adalah karena dua peristiwa ini: Hari yang pertama ia bertemu dengan Rasulullah dan hari saat berpisah dengan Beliau. Apabila terkenang hari yang pertama beliau berbahagia, dan apabila terkenang hari yang kedua terharu yang membuat orang-orang di sekelilingnya ikut menangis.

Beliau sering berkata: “Sungguh saya melihat Nabi SAW pada hari pertama bersama kita, dan hari pada saat wafatnya, maka tidaklah aku melihat dua hari itu ada kemiripan. Maka pada hari saat masuk ke Madinah menyinari segala sesuatu. Dan pada hari hampir wafatnya, jadilah Madinah kota yang gelap. Terakhir aku melihat Rasulullah SAW yaitu pada hari Senin ketika tabir di kamarnya dibuka maka aku melihat wajahnya seperti kertas mushaf. Para sahabat saat itu yang berdiri di belakang Abu Bakar melihatnya, hampir-hampir mereka bergejolak kalau saja Abu Bakar tidak menenangkan mereka. Pada hari itulah Rasulullah SAW wafat, maka tidaklah kami melihat pemandangan yang sangat mengherankan daripada melihat wajah Rasulullah SAW ketika dikuburkan.”

Adalah Rasulullah SAW sering mendoakan Anas bin Malik. Di antara doanya: ( اللهم ارزقه مالاً وولداً ، وبارك له )  Ya Allah berilah rezki kepadanya harta dan anak, dan berkahilah. Dan sungguh Allah telah mengabulkan doanya, jadilah Anas orang yang kaya di kalangan Anshar dan paling banyak keturunannya sampai-sampai dia panjang umur dan hidup bersama cucu-cucunya lebih dari seratus orang, bahkan umurnya mencapai seratus tahun lebih. Dan adalah Anas, sahabat yang sangat mengharapkan syafaat Rasulullah SAW pada hari kiamat sehingga sering sekali ia mengatakan: Aku berharap dapat bertemu Rasulullah pada hari kiamat dan mengatakan kepada Rasulullah SAW, ya Rasul inilah saya yang dulu menjadi pembantumu.

Ketika Anas sakit menjelang kematiannya, dia berkata kepada keluarganya: “Tuntunlah aku untuk membaca laailaaha Illallah.” Begitulah ia mengulang-ulangnya sampai datang ajalnya. Beliau pernah berwasiat agar tongkat kecil milik Rasul dikuburkan bersamanya, maka diletakkanlah tongkat itu di antara lambungnya.

Selamat bagi Anas yang telah dikaruniai oleh Allah dengan berbagai macam kebaikan. Beliau berada di ranking ketiga di dalam meriwayatkan hadits, setelah Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar. Semoga Allah membalasnya dan ibunya atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

—–

Edited by: @pokamamil

Source: http://www.dakwatuna.com/2010/06/30/6477/anas-bin-malik/#ixzz33m5elXKc

The importance of shalat as the identity and the key to problems that have been ravaging our Ummah from time to time. During his dying state, Umar bin Khattab set us a perfect example as to why we should not forget to perform shalat no matter what the excuse is.

—–

Produced by: The Merciful Servant

Video: The Assassination of Umar bin Khattab (RA) (via The Merciful Servant)

Khilafah Adalah Warisan Rasulullah, Bukan ISIS

Beberapa bulan terakhir ini, Kaum Muslimin di seluruh dunia digemparkan oleh berita tegaknya ‘Khilafah’ yang diproklamasikan oleh ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Kelompok yang mengakui dirinya sebagai gerakan mujahidin di sebagian wilayah Irak dan Suriah ini, mengangkat Abu Bakar Al Baghdadi sebagai khalifah mereka. Sontak, semua dunia pun tertuju pada berita yang disebar melalui berbagai media sosial.

Hanya saja, ‘Khilafah’ ala ISIS ini menuai kontroversi. Tidak sedikit umat Islam yang sudah merindukan Khilafah menyatakan dukungannya terhadap ISIS dan bahkan telah ada sebagian dari mereka yang bergabung dan menyatakan baiatnya pada sang khalifah. Namun, sebagian ulama besar kaum Muslimin, serta banyak gerakan-gerakan Islam lainnya menolak atas penegakkan Khilafah versi ISIS ini.

ISIS memang menuai kontroversi. Mereka disebutkan telah banyak melakukan tindakan kekerasan secara otoriter dan brutal terhadap warga Muslim maupun non-Muslim. Semua ini tentunya akan menimbulkan pemahaman yang keliru akan penerapan Syariah dan Khilafah sejati yang merupakan warisan Rasulullah saw.

Bagaimana Seharusnya Menyikapi Khilafah ala ISIS?

Beberapa waktu yang lalu, setelah pendeklarasian Khilafah oleh ISIS yang beritanya telah beredar hingga ke seluruh penjuru dunia, MUI menggelar pertemuan para pimpinan ormas Islam untuk dalam rangka menyikapi perkembangan isu ISIS di Indonesia.

Para tokoh ulama yang dikumpulkan tersebut sepakat bahwa umat Muslim jangan sampai kontraproduktif terhadap gagasan dan ajaran syariat Islam, terutama Khilafah. Kelompok ISIS adalah kelompok jihadis. Namun, tindakan mereka begitu brutal dan di luar kendali. Bahkan mereka membunuh sesama para mujahid. Sehingga, Khilafah yang mereka tegakkan itu wajib dipertanyakan, apakah sesuai dengan syara’? Dari sini, umat Muslim harus memahami secara pasti metode penegakkan Khilafah secara syari’.

Isu Khilafah ISIS ini jangan sampai memonsterisasi syariah dan khilafah terhadap umat Muslim itu sendiri. Hal pertama yang diperlukan dalam menyikapi isu ISIS ini adalah sikap proporsional, waspada, dan hati-hati. Jangan sampai, isu kasus ISIS ini membuat semua hal yang berbau syariah dan khilafah itu berbahaya dan menolak mentah-mentah terhadap ide ini. Bahkan sampai menjerat dan menuduh orang-orang yang dengan ikhlas memperjuangkan syariah dan khilafah Islam sesuai dengan ajaran Rasulullah itu sebagai teroris.

Padahal, tidak kurang dari 39 hadist Rasulullah berbicara tentang khilafah. Jadi, sebagai umat Islam, kita perlu hati-hati dalam menyikapi isu ISIS ini, jangan sampai isu ini dijadikan sebagai alat monsterisasi terhadap syariah dan khilafah. Umat tentu butuh untuk mengkaji secara detail dan mendalam tentang bagaimana cara menegakkan Khilafah ala Minhaj Nubuwwah yang dijanjikan Allah dalam salah satu hadist Rasulullah saw.

Khilafah Sejati

Khilafah berasal dari Islam. Khilafah berasal dari Al Quran, Sunnah, Ijma Sahabat, dan Qiyas. Tentu, umat Muslim seluruhnya wajib untuk mendukung keberadaannya. Hanya saja, Khilafah yang harus kita pahami dan kita perjuangkan adalah Khilafah yang sesuai dengan model pemerintahan Rasulullah dan para Khulafaur Rasyidin. Inilah yang dinamakan Khilafah Rasyidah ala Minhaj Nubuwwah, yaitu khilafah yang memiliki metode sesuai yang digariskan oleh Rasulullah saw.

Sedangkan Khilafah yang dideklarasikan ISIS belum dikatakan memenuhi syara’. Oleh karena itu, hal ini masih menjadi pro dan kontra bagi banyak pihak. Mengapa khilafah ISIS belum memenuhi ketentuan syara’?

Pertama, kekhilafahan haruslah memiliki wilayah secara otonom dan penuh. Sedangkan, ISIS menguasai beberapa wilayah di Irak dan sebagian di Suriah, dalam artian, mereka masih berada di dalam kekuasaan pemerintah Irak dan sebagian lagi masuk di dalam kewenangan Suriah. Kekuasaan ISIS berada di dalam Negara yang telah memiliki standarisasi hukum. Artinya, mereka tidak sepenuhnya berkuasa.

Kedua, keamanannya belum berada di tangan kaum Muslimin. Sekalipun ISIS merupakan kelompok jihadis, hanya saja mereka masih harus bertempur untuk melawan militer penguasa yang dianggap sah di negeri itu.

Ketiga, sebuah khilafah yang sejati haruslah menegakkan syariat Islam secara menyeluruh (kaffah). Artinya, mulai dari hal kecil hingga tataran besar seperti pemerintahan, politik, ekonomi, peradilan, dan sistem lainnya harus diterapkan hukum Islam secara menyeluruh, baik, dan benar. Keempat, khalifah yang memimpin khilafah tersebut haruslah memenuhi syarat-syarat pengangkatan khalifah, yaitu : muslim, baligh, laki-laki, berakal, merdeka, mampu, dan adil (tidak fasik). Itulah yang mencirikan khilafah yang sebenarnya. Sedangkan ISIS dianggap oleh banyak ulama faqih belum memenuhi itu semua.

Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah dibangun oleh pondasi umat yang menerima dan meyakini kumpulan pemahaman, standarisasi, dan keyakinan Islam yang diterapkan kepada mereka. Metode yang digunakan untuk membangun Khilafah Rasyidah ini pun harus mengikuti tahapan metode Rasulullah dan para sahabat dalam mendirikan Negara. Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah menerapkan syariat Islam secara menyeluruh dan sempurna. Khilafah akan sangat menjaga akidah, darah, kehormatan, harta, jiwa, akal, dan keturunan penduduknya, baik Muslim maupun non-Muslim secara adil. Begitulah Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj Nubuwwah yang dijanjikan Allah swt. dalam salah satu hadits Rasulullah saw.

“’…Selanjutnya, akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.’ Beliau kemudian terdiam.” (HR. Ahmad)

Khilafah wajib diperjuangkan dan ditegakkan di bumi Allah ini. Bukan malah ditakuti bahkan diberangus para pengembannya. Khilafah yang wajib diperjuangkan adalah Khilafah yang sesuai dengan metode Rasulullah saw. Allah telah menjanjikan kedatangannya kembali. Itulah Khilafah yang akan menyelimuti dunia ini dengan keadilan, kebaikan, dan kesejahteraan. Khilafah ini yang akan menjadi solusi bagi segala permasalahan yang terjadi pada saat ini. Khilafah warisan Rasulullah inilah yang akan menjadi tonggak kebangkitan dan kemuliaan umat Muslim di seluruh dunia.

Wallahu’alam bisshawab.

—–

Edited by @pokamamil

Written by: Ariefdhianty Vibie H., Wiraswasta, Bandung